Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Perpustakaan’ Category

I. PENDAHULUAN A. Konsep Customer Value Konsumen adalah raja. Suatu ungkapan yang sangat familiar di telinga dan pikiran semua orang. Di dunia pemasaran ungkapan tersebut menjadi suatu harga mati yang harus diterapkan. Bahkan begitu merasuknya dalam praktek keseharian, ungkapan tersebut sudah menjadi lelucon atau bahan olokan bagi pelaku bisnis. Tidak sedikit konsumen salah menafsirkan ungkapan tersebut sehingga lagak, gaya dan tuntutannya benar-benar mengidentikkan diri sebagai seorang raja. Segala sesuatu harus dilayani dengan sempurna. Kejadian dan sikap berlebihan tersebut seringkali menjadikan seorang karyawan merasa dongkol dan berdampak pelayanan yang diberikan tidak sesuai ketentuan perusahaan. Pada hakekatnya konsumen yang menghidupi seluruh karyawan. Perusahaan memproduksi barang atau jasa ditujukan kepada konsumen. Konsumen membayar manfaat yang diperoleh dari produk barang atau jasa yang dinikmatinya. Bila pasar berjalan dengan sempurna, di mana konsumen mempunyai banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhannya, maka produsen harus benar-benar mengetahui apa yang dibutuhkan konsumen. Produsen yang mampu memahami dan memenuhi kebutuhan konsumen, dan konsumen merasa puas terhadap kinerja dan layanan yang diberikan akan mampu bertahan di era global. Konsumen merupakan faktor kunci sukses (key succes factor/KSF). Memahami karakteristik konsumen merupakan hal yang sangat fundamental. Maka pola pikir yang dibangun perusahaan atau organisasi juga harus mengikuti logika konsumen. Pada tataran ini akan timbul konsep yang dikenal dengan customer value (nilai konsumen). Mulyadi (2001:230) mendefinisikan customer value sebagai selisih antara manfaat yang diperoleh konsumen dari produk barang atau jasa yang dikonsumsi dengan pengorbanan yang dilakukan konsumen untuk memperoleh manfaat itu. Manfaat yang diperoleh dan pengorbanan yang dilakukan oleh konsumen ditentukan oleh tingkat kualitas hubungan yang dibangun antara produsen dan konsumen. Praktik di dunia pemasaran dan jasa tersebut juga terjadi di ranah perpustakaan. Pembeli atau konsumen di perpustakaan disebut pengunjung atau pemakai (user). Perpustakaan harus jeli melihat pasar dan menentukan segmentasi pemakainya. Di perpustakaan perguruan tinggi, sivitas akademika perguruan tinggi merupakan segmen utama yang harus dilayani. Pada perpustakaan umum pemakai utamanya adalah penduduk di wilayah perpustakaan umum tersebut, terutama penduduk yang tidak dapat lagi memperoleh akses pada pendidikan formal. B. Perpustakaan Sebagai Institusi Penyedia Jasa Kontemporer Perpustakaan merupakan suatu lembaga penyedia jasa informasi yang sebagian besar bertujuan tidak untuk mencari keuntungan atau nirlaba. Pada banyak praktik di Indonesia, karena institusi bersifat nirlaba, maka kualitas layanan kepada pemakai tidak menjadi prioritas. Bekerja asal tidak melanggar aturan, target pencapaian minimal dan rendahnya budaya kualitas adalah gambaran yang jamak terjadi, demikian pula dengan perpustakaan. Sorotan dan tuntutan terutama pada pegawai negeri sipil sangat besar. Slogan layanan prima hanya ada pada pelatihan dan seminar belaka. Sementara itu perubahan paradigma manajemen jasa sangat cepat. Di negara maju pendekatan prinsip pemasaran sudah dilakukan oleh perusahaan jasa hampir seabad silam. Pemakai merupakan faktor utama eksistensi dan operasionalnya suatu institusi, terlebih lagi institusi penyedia jasa. Perubahan paradigma yang terjadi digambarkan dengan jelas oleh pakar pemasaran Indonesia yaitu Hermawan Kertajaya. Kertajaya membuat suatu kredo yang terkenal dengan The 10 Credos of Compassionate Marketing di mana kredo kedua adalah ”BE SENSITIVE TO CHANGE AND BE READY TO TRANSFORM” dengan tambahan keterangan yang menyebutkan: “Dunia tidak akan selamanya seperti ini. Lanskap bisnis akan terus berubah. Kompetisi yang semakin sengit tidak mungkin dihindari lagi. Globalisasi dan teknologi akan membuat pelanggan semakin pintar. Kalau kita tidak sensitif dan tidak cepat-cepat mengubah diri, maka kita akan habis” Sudah menjadi keharusan bagi pustakawan dan perpustakaan di Indonesia agar mampu bersaing di lingkungan global. Menurut Mulyadi (2001:256) keberhasilan organisasi dalam memasuki lingkungan global dipengaruhi oleh empat faktor yaitu : 1. Kecepatan organisasi dalam merespon kebutuhan pemakai/konsumen; 2. Fleksibilitas personil dalam penyesuaian diri dengan perubahan lingkungan bisnis, kemampuan belajar keterampilan baru, kebersediaan memasuki lingkungan baru yang sama sekali belum pernah dikenal; 3. Keterpaduan antara organisasi dengan stockholder untuk memenuhi kebutuhan pemakai; dan 4. Kemampuan organisasi untuk menciptakan produk baru dan proses baru untuk memenuhi perubahan kebutuhan pemakai/konsumen. C. Perpustakaan Dan Manajemen Pemasaran Jasa Penggunaan prinsip-prinsip pemasaran sudah merupakan keharusan untuk diterapkan di organisasi nirlaba seperti perpustakaan. Kotler (1997:13) mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan-tujuan individu dan organisasi. Dalam pendekatan pemasaran di perpustakaan beberapa hal yang menjadi pertanyaan utama antara lain: Siapa pemakai utama perpustakaan? Apa yang pemakai inginkan dari layanan perpustakaan? Apa yang dapat dilakukan perpustakaan agar keinginan pemakai terpenuhi? Dan dengan cara apa perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan pemakai? Sejumlah pertanyaan tersebut merupakan dasar bagi perpustakaan dalam menjalankan aktivitasnya. Tuntutan perubahan dan dinamika perilaku pemakai sangat memerlukan pendekatan pemasaran agar organisasi mampu bertahan. Untuk itu seluruh pegawai di lingkungan perpustakaan dimana pun level dan bidang tugasnya wajib memahami dan menjalankannya. D. Studi Mengenai Kualitas Jasa Di Perpustakaan Ilmu perpustakaan dan aktivitas operasional sehari-hari selalu berkaitan dengan disiplin ilmu yang lain. Ada dua disiplin ilmu yang sangat berpengaruh pada kegiatan operasional perpustakaan, pertama teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology) yang berkaitan dengan kegiatan operasional perpustakaan sehari-hari seperti digitalisasi koleksi, sistem layanan dan e-library. Disiplin ilmu yang kedua adalah manajemen, khususnya manajemen pemasaran. Manajemen pemasaran lebih berkaitan dengan sumber daya manusia seperti peningkatan kompetensi, interaksi antar individu dan atau lembaga, kepuasan kerja, kepuasan pemakai, kualitas layanan dan sebagainya. Beberapa studi dan penelitian mengenai pemasaran yang memfokuskan tentang tingkat kepuasan pemakai dan kualitas layanan perpustakaan telah dilakukan dan diterapkan di banyak perpustakaan negara maju seperti di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. 1. Di Amerika Serikat Dipelopori oleh American Library Association (ALA) banyak menyelenggarakan seminar dan publikasi tentang fungsi pemasaran untuk perpustakaan. Pada tahun 1876 ALA mengadakan satu konferensi di mana salah satu pembicaranya Samuel Sweet Green, mengambil topik pengembangan hubungan personal antara pustakawan dan pembaca. Pada konferensi lain di tahun 1896, Lutie Stearns membahas pentingnya periklanan di perpustakaan. Setelah itu banyak sekali seminar tentang pengembangan perpustakaan dengan mengadopsi prinsip-prinsip pemasaran. The Association of Research Libraries (ARL) yang berdiri tahun 1932 lebih banyak memfokuskan pada penelitian ilmiah di bidang perpustakaan. Konferensi, workshop dan kursus mengenai pemasaran khususnya peningkatan mutu banyak dilakukan. Pelatihan yang cukup fenomenal antara lain penggunaan metode service quality (SERVQUAL) yang dikembangkan tahun 1980an oleh A. Parasuraman, L.L. Naerry dan V.A. Zeithaml untuk perpustakaan. Metode ini di perpustakaan dinamakan dengan Library Quality (LIQUAL). Perpustakaan Universitas Harvard menerapkan metode Total Quality Manajemen (TQM) sejak awal tahun 1980. Sebelum penerapan di perpustakaan metode ini telah diterapkan di lingkungan universitas. Studi mengenai manajemen pemasaran juga banyak dilakukan. Setelah diimplementasikan di perpustakaan, metode TQM mampu memberi manfaat ganda bagi semua pihak yang terkait dengan perpustakaan. 2. Di Eropa International Federation of Library Association and Institution (IFLA) memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan prinsip-prinsip pemasaran di perpustakaan terutama di kawasan Benua Eropa. Greta Renbog (1997) dalam satu artikelnya menulis bahwa Andrean Schack Steenberg, seorang pustakawan Denmark, setelah menamatkan belajar di Amerika Serikat pada tahun 1903 mempelopori istilah ”tugas lanjutan (extention work)” untuk perpustakaan. Menurut Harrod’s The Librarians ”extention work” didefinisikan sebagai: ”activities which are undertaken with the object of reaching group of people who might otherwise be unaware of the library”. Aktifitas lanjutan yang dimaksud tersebut banyak berkaitan dengan fungsi-fungsi pada manajemen pemasaran, yang antara lain berupa kegiatan periklanan, hubungan masyarakat dan publikasi. Tahun 1963 IFLA memelopori adanya konferensi tentang pengembangan perpustakaan terutama berkaitan dengan hubungan masyarakat. II PERMASALAHAAN Pemakai atau konsumen pada pemasaran kontemporer memegang peran yang paling penting. Pemakailah yang menentukan tingkat layanan yang diinginkan beserta atribut-atribut yang mempengaruhi kualitas layanan (customer-driven quality). Beberapa pertanyaan yang muncul berkaitan dengan bagaimana menciptakan kepuasan pemakai dan meningkatkan kualitas berbasis pemakai antara lain: 1. Apa dan bagaimana kepuasan pemakai berbasis pada pemakai? 2. Apa dan bagaimana kualitas berbasis pada pemakai? 3. Bagaimana penerapan di perpustakaan? 4. Mengapa perlu diterapkan di perpustakaan? Bila diinventarisir lebih lanjut, sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang muncul pada masalah ini. Pemahaman terhadap prinsip-prinsip pemasaran yang berkaitan dengan kepuasan pemakai dan kualitas mutu layanan sangat diperlukan untuk landasan operasional perpustakaan. Kesadaran pustakawan akan tuntutan perubahan menuju pendekatan pemasaran masih sangat rendah. Pada tulisan ini hanya memaparkan secara garis besar saja, yaitu berkaitan dengan bagaimana memenuhi kepuasan pemakai dan tingkat kualitas layanan perpustakaan dengan berbasis pada pemakai. III KEPUASAN PEMAKAI A. Peristilahan Banyak definisi berkaitan dengan kepuasan pamakai (customer satisfaction) antara lain disebutkan oleh Tjiptono (2004) yang mengutip pendapat Day: Kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian/diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja lainnya) dan kinerja aktual produk yang dirasakan oleh pemakai. Dengan bahasa yang lebih sederhana Kotler (1994) menyebutkan kepuasan pelanggan sebagai: Tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Dalam satu penelitian yang dilakukan oleh ARL di Amerika Serikat, harapan utama pemakai setelah memanfaatkan perpustakaan untuk meningkatkan keyakinan dan kepercayaan diri setelah memperoleh informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari koleksi yang dimanfaatkan. Konsep kepuasan pemakai dapat dijelaskan pada gambar di bawah: Gambar 1. Konsep Kepuasan Pemakai bersumber Fandy Tjiptono (2000); Manajemen Jasa Yogyakarta; Andi Offsett B. Metode Mengukur Kepuasan Pemakai Kotler (1997:38) menyebutkan beberapa metode untuk mengukur kepuasan pemakai, antara lain: 1. Sistem keluhan dan saran Perpustakaan dapat membuat kotak saran dan menempatkan di tempat yang paling sering dilewati pemakai. Untuk dapat memberikan masukan, tanggapan, keluhan atas segala aktifitas dan layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Atau dengan memberikan sejenis kartu komentar yang diisi oleh pemakai dapat diberikan langsung kepada petugas perpustakaan atau melalui pos. Di negara maju terdapat layanan telepon bebas atau pesan singkat. Kemajuan teknologi ini sangat berarti dalam memahami kepuasan pemakai 2. Survei kepuasan pemakai Banyak metode survey yang digunakan untuk memahami tingkat kepuasan pemakai. Survei tersebut dapat secara kualitatif maupun kuantitatif. Saat ini metode kuantitatif lebih banyak dilakukan karena metode ini cukup familiar dan keakuratannya cukup tinggi. Survey bisa dilakukan oleh internal perpustakaan, atau menyewa konsultan biro jasa yang khusus menangani tentang survey kepuasan pemakai. Beberapa metode survey kepuasan pemakai antara lain: direct reported satisfaction, derived dissatisfaction, problem analysis dan important-performance analysis 3. Ghost shopping Metode ini dengan mempekerjakan beberapa orang untuk berperan sebagai pemakai dan harus dijaga identitasnya. Ghost shoppers yang baik akan mencatat apa saja yang dilihat, dirasakan olehnya dan perilaku, sikap dan tatacara petugas perpustakaan dalam menjalankan profesinya. Metode ini biayanya relatif murah dan waktu pelaksanaan fleksibel. Hasil pencatatan Ghost shoppers dikumpulkan dan diadakan diskusi pembahasan. 4. Analisis kehilangan pemakai (lost customer analysis) Pimpinan perpustakaan dan pustakawan harus jeli melihat perkembangan pengunjung. Dari aktifitas dan statistik harian akan terlihat tingkat pemanfaatan layanan perpustakaan. Petugas tentu hafal pengunjung dan pemakai rutin perpustakaan, bila pengunjung trersebut sudah jarang atau tidak ada lagi ke perpustakaan dengan alasan yang tidak wajar, maka sebab-sebab mengapa tidak lagi memanfaatkan jasa perpustakaan harus dicari. IV. BUDAYA KUALITAS A. DEFINISI Bila beberapa pemakai perpustakaan ditanya tentang apa dan bagaimana tingkat kualitas pelayanan perpustakaan, maka muncul banyak jawaban. Setiap pemakai berlainan dalam memahami, merasakan dan menilai apa itu kualitas. Tetapi terdapat beberapa hal yang sama berkaitan kualitas layanan perpustakaan yang diharapkan. Beberapa persamaan itu di antaranya: 1. Pemakai pasti mengharapkan kenyamanan dalam menggunakan seluruh layanan perpustakaan 2. Pemakai mengharapkan koleksi yang tersedia memenuhi kebutuhannya 3. Pemakai mengharapkan sikap yang ramah, bersahabat dan responsif dari petugas 4. Pemakai mengharapkan perpustakaan memiliki akses internet yang cepat. Sejumlah harapan tersebut pasti ada dalam benak pikiran pemakai, hanya tingkat pengharapan dan prioritas layanan yang diharapkan antar pemakai berlainan. Adanya kesesuaian antara harapan dan kenyataan yang diperoleh merupakan definisi sederhana dari kualitas. Pakar lain yang mendefinisikan kualitas dengan penekanan yang berbeda. Di antaranya oleh Goetsch dan Davis (1994, p.4) yang mendifinisikan kualitas sebagai kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Berkaitan dengan kualitas tidak dapat dipisahkan dengan Total Quality Management (TQM). TQM lebih tepat disebut sebagai suatu perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktifitas, pengertian dan kepuasan pelanggan. Terdapat empat prinsip utama dalam TQM yaitu : 1. Kepuasan pemakai Pemakai perpustakaan yang menentukan tingkat kualitas yang diharapkan, spesifikasi, jenis layanan dan sebagainya. Pemakai perpustakaan dalam arti yang luas bukan saja pemakai/pengunjung perpustakaan, tetapi semua pihak yang terkait, misalnya badan yang menaungi perpustakaan (Perpustakaan Nasional, Rektorat, Gubernur, Bupati), mitra kerja, sponsor bahkan dengan penerbit/pedagang buku 2. Respek kepada setiap orang Sumber daya manusia merupakan faktor utama dalam organisasi. Setiap orang dipandang sebagai individu yang memiliki bakat, kemampuan, kreatifitas dan kepribadian yang unik, Karena karakteristik tersebut maka pelibatan dan partisipasi setiap orang dalam organisasi sangat penting 3. Manajemen berdasarkan fakta Manajemen kontemporer bekerja tidak berdasarkan perasaan (feeling) dan kebiasaan yang terjadi, tetapi harus memiliki data yang komprehensif. Data diperoleh dari fakta yang terjadi di lapangan. Dengan data tersebut selanjutnya diolah sebagai dasar perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan dan evaluasi 4. Perbaikan berkesinambungan (continuous Improvement) Agar sukses dan mampu bertahan, sebuah organisasi harus selalu melakukan perbaikan. Perbaikan dilakukan terus menerus karena kualitas bersifat dinamis. Perilaku dan preferensi pemakai juga mengalami perubahan. Prinsip hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin menjadi perilaku seluruh level di organisasi B. KARAKTERISTIK KUALITAS DI PERPUSTAKAAN Karakteristik kualitas antara perusahaan jasa dan manufaktur memiliki perbedaan. Bahkan antara penyedia jasa saja juga memiliki kekhususan, misalnya karakteristik jasa perbankan berbeda dengan jasa pendidikan. Demikian juga dengan perpustakaan juga memiliki kekhasan. Perbedaan karakteristik tersebut justru akan memperkaya diskusi mengenai kualitas. Banyak pakar menentukan karakter kualitas organisasi perpustakaan. Misalnya konsep Servqual yang dipelopori oleh Parasuraman yang membagi menjadi lima karakteristik kualitas. Empat universitas terkemuka di Australia yang bergabung di University 21 juga memiliki karakteristik kualitas yang agak berbeda, demikian pula yang dikembangkan oleh ARL yang memodifikasi apa yang telah dilakukan oleh Parasuraman menjadi Library Quality (LIBQual) Secara ringkas karakteristik kualitas dan para pelopornya dapat dilihat pada gambar di bawah: Karakteristik Kualitas Perpustakaan Parasuraman University 21 libQUAL Tangible (Bukti Langsung) Fasilitas/Kelengkapan Perpustakaan sebagai tempat Reliability (Keandalan) Kualitas Layanan Keandalan Responsiveness (daya tanggap) Kualitas Layanan Pengaruh Layanan Assurance (Jaminan) Komunikasi Akses Informasi Emphaty (Empati) Manusia Kelengkapan Koleksi Gambar 2. Karakteristik Kualitas Jasa Perpustakaan diolah dari berbagai sumber Bila karakteristik kualitas layanan perpustakaan sebagaimana yang digunakan oleh Association of Research Library (ARL) yang dinamakan libQual, maka karakter kualitas layanan perpustakaan seperti gambar di bawah ini Gambar 3. Karakteristik Kualitas Jasa Layanan Perpustakaan menurut libQUAL diambil dari Cook, Colleen and Heath, Fred (2000) 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi Layanan a. Empati Yaitu suatu sikap, respon dan tindakan dimana pustakawan dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pemakai. Pemakai datang ke perpustakaan tentunya bermaksud mencari buku yang dibutuhkan, maka semaksimalnya apa yang dibutuhkan pemakai dapat terpenuhi. Ada kalanya pemakai datang untuk sekedar mencari kenyamanan dan ketenangan, maka pustakawan mencoba mengkondisikan apa yang dirasakan oleh pemakai. b. Daya Tanggap (Responsiveness) Salah satu ciri seorang profesional adalah memiliki daya tanggap yang cepat atau responsif. Pemakai akan sangat terkenang dengan respon cepat dari pustakawan atas kebutuhan yang dihadapinya. c. Jaminan (Assurance) Yang termasuk jaminan antara lain kemampuan, kesopanan, sifat yang dapat dipercaya oleh pustakawan, sehingga pemakai akan merasa nyaman dalam memanfaatkan layanan perpustakaan. 2. Keandalan (Reliability) Kemampuan pustakawan untuk memberikan layanan sesuai yang dijanjikan dengan akurat, cepat dan memuaskan. Misalnya untuk satu kali transaksi peminjaman bila standar waktunya 30 detik/transaksi, maka maksimal waktu 30 detik itu yang harus diberikan kepada pemakai. Perpustakaan memiliki standar operasional dalam setiap jenis layanan, misalnya pengolahan buku dari sejak buku datang sampai siap dipinjam oleh pemakai memerlukan waktu berapa hari. Standar tersebut dikomunikasikan kepada pemakai. 3. Kemudahan Pemakaian a. Jenis Layanan Pemakai akan lebih menyukai perpustakaan yang menggunakan sistem layanan terbuka. Pemakai secara psikologis lebih senang bila tahu betul keberadaan bahan pustaka yang diinginkan. Pada sistem layanan tertutup, kecurigaan pemakai kepada pustakawan untuk bersikap adil dalam melayani pemakai selalu ada. Sistem layanan terbuka lebih memungkinkan interaksi yang lebih mendalam antara pustakawan dan pemakai. b. Kemudahan pemanfaatan Kemudahan menggunakan seluruh fasilitas perpustakaan dengan membuat aturan yang mudah dipahami, jelas dan tidak birokratis. Peraturan yang terkesan diada-adakan dan semboyan bila-bisa dipersulit mengapa dipermudah harus dijauhkan. c. Tata letak Tata letak di sini lebih difokuskan kepada penempatan perabotan dan perlengkapan agar pemakai mudah menggunakan koleksi perpustakaan. Perabotan yang ergonomis sangat membantu kenyaman pemakai. 4. Kelengkapan Koleksi Kelengkapan koleksi merupakan salah satu faktor utama pendorong masyarakat berkunjung dan memanfaatkan layanan perpustakaan. Survey di empat perpustakaan universitas terkemuka di Australia menunjukkan dari 40 item harapan terhadap layanan perpustakaan, koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemakai menempati urutan ketiga. Peran bagian pengembangan koleksi sangat penting untuk memajukan perpustakaan. 5. Perpustakaan sebagai tempat a. Kenyamanan Sebagian besar orang kalau ditanya mengenai perpustakaan, maka jawabannya biasanya tempat menyimpan buku. Posisioning perpustakaan sebagai tempat buku atau gudang buku masih kuat tertancap dibenak pikiran masyarakat. Lebih ironis lagi gedung perpustakaan dipersepsikan kotor, tua, berdebu dan statis. Fasilitas dan kegunaan perpustakaan yang lain menjadi tidak berarti. Pendapat seperti di atas harus segera diluruskan. Tempat yang nyaman, teduh, bersih dan membuat betah merupakan prioritas sebuah perpustakaan. Gedung perpustakaan juga harus lebih dinamis dalam merespon aktifitas pegawai dalam melayani pemakai, maupun kebutuhan tambahan pemakai. Ruangan dan aktifitas tambahan di luar kegiatan utama kepustakawanan tersebut, antara lain: ada ruang untuk diskusi kecil maupun seminar, aula yang besar, jika perlu terdapat ruang pamer benda seni atau fotografi. b. Papan petunjuk Denah dimana perpustakaan berada, penting diberikan. Petunjuk arah ditempatkan di lokasi yang strategis sehingga pemakai mudah menemukannya. Denah di dalam gedung juga perlu diperhatikan, apalagi biasanya gedung perpustakaan memiliki banyak lantai. Kemudahan pemakai mendapatkan yang dibutuhkan sangat membantu kenyaman pemakai. c. Pengaturan ruangan Ruangan yang tertata baik dan fungsional akan memudahkan pegawai maupun pengunjung dalam memenuhi kebutuhannya. Pengaturan ruangan yang baik sangat mempengaruhi tingkat intensitas kunjungan pemakai. Penggunaan konsultan disain interior maupun eksterior dalam derajat tertentu jauh lebih efektif dan efisien. C. Layanan Prima Sebagai seorang yang hidup dari usaha jasa, pustakawan dituntut untuk dapat melakukan pelayanan prima bagi pemakainya. Layanan prima (service excellence) tersebut diharapkan mampu memuaskan kebutuhan pemakai secara proporsional. Terdapat empat unsur utama dalam konsep pelayanan prima, yaitu: kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan. Keempatnya merupakan satu kesatuan yang terintegrasi, artinya keempatnya harus ada, tidak boleh ada yang tertinggal jika ingin disebut layanan prima. Pengakuan layanan prima dari pemakai akan menimbulkan manfaat ganda bagi semua pihak, yaitu pustakawan, pemakai maupun lembaga perpustakaan atau lembaga yang menaunginya. Semua pihak merasa diuntungkan dan menguntungkan. Kesadaran untuk saling memberikan yang terbaik, menghargai antar pribadi/lembaga dan bekerja sama perlu selalu dipupuk. Sasaran dan manfaat pelayanan prima dapat dilihat pada gambar di bawah ini Sasaran Layanan Prima Manfaat Layanan Prima Untuk Pemakai Untuk Pustakawan Institusi Perpustakaan Memuaskan Pemakai Kebutuhan terpenuhi Lebih percaya diri Mengesankan profesionalitas (corporate image) baik Meningkatkan loyalitas pemakai Merasa dimanusiakan, di- hargai dan men- dapat pelayanan yang baik Ada kepuasan pribadi bisa mem- bantu dan ber- manfaat bagi orang lain Kelangsungan hidup terjamin Meningkatkan jumlah pengun-jung dan kualitas layanan Timbulnya keper-cayaan dari pemakai Ketenangan, lebih profesional, ada pengakuan dari pihak luar dalam bekerja Mendorong pihak-pihak yang berkaitan dengan perpustakaan lebih percaya, meningkatkan hubungan dan donasi/ anggaran yang diberikan Meningkatkan nilai perpusta-kaan Bangga sebagai anggota perpus-takaan yang prestisius Menambah sema-ngat bekerja, me-ningkatkan profe-sionalisme dan karir Menaikkan posisi tawar perpustakaan, lebih di-hargai dan sebagai per-contohan bagi unit/ lembaga yang lain Gambar 4. Sasaran dan manfaat layanan prima dimodifikasi dari Fandy Tjiptono (2004) Manajemen Jasa. Yogyakarta: Penerbit Andi V. PENUTUP Perkembangan dunia perpustakaan di negara-negara maju terjadi dengan sangat cepat. Penelitian tentang perpustakaan terutama berkaitan dengan pemasaran masih sedikit di Indonesia. Ketertinggalan tidak cukup untuk diratapi, tetapi tantangan ke depan yang maha berat harus dihadapi. Faktor yang menjadi kendala bagi kemajuan perpustakaan di Indonesia juga dihadapi oleh pelaku jasa yang lain. Tinggal bagaimana sumber daya manusia, dalam hal ini pustakawan, mampu untuk selalu berpikir positif dan terus mengembangkan diri. Eksistensi suatu lembaga akhirnya akan ditentukan oleh seberapa besar lembaga tersebut bermanfaat secara optimal dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. Terdapat dua kunci yang menjadi awal dari kemauan untuk memenuhi kebutuhan pemakai, yang pertama adalah kesadaran bahwa melayani merupakan ibadah. Membuat bahagia dengan memberikan informasi kepada orang yang memerlukan adalah kegiatan yang mulia. Melayani orang lain, apalagi menyadari kalau pemakai perpustakaan merupakan orang yang menghidupi kita, harus tertanam di hati pustakawan dan dipraktekkan sehari-hari. Kunci yang kedua, sebagai pribadi yang beriman tentu meningkatkan kualitas diri merupakan suatu kewajiban. Dalam agama Islam terdapat suatu hadist yang sangat erat berkaitan dengan budaya kualitas, yaitu : Orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin, maka orang tersebut beruntung. Bila hari ini sama dengan hari kemarin, maka orang tersebut tergolong merugi. Merugi dalam hal waktu yang terbuang percuma. Dan bila hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka orang tersebut tergolong celaka. Dalam redaksi yang lain, tentu semua agama mengajarkan kebaikan, sikap tolong menolong dan meningkatkan kualitas diri. Semua bergantung kemauan kita sebagai pustakawan untuk mampu berperan dan tidak tergerus laju globalisasi. Kunci sudah berada di tangan pustakawan. Mau merubah diri dengan sikap proaktif kepada pemakai dan selalu meningkatkan kualitas diri, sehingga tetap eksis atau diam dan tergarus arus globalisasi. Jangan mengharap perubahan datang dan/atau akibat dari luar, berubahlah karena kesadaran diri. Perubahan yang berasal dari dalam akan berdampak luar biasa dan dengan percepatan yang jauh lebih cepat juga. DAFTAR PUSTAKA Cook, Colleen and Heath, Fred (2000) User,s perception of library service quality : A LIBQUAL qualitative study: Washington DC: ARL Measuring Service Quality Symposium http://www.arl.org/libqual/event/oct2000msq/papers/HeatCook/heatcook.html Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998) Total Quality Manajemen, Yogyakarta: Andi Offset Fandy Tjiptono (2004), Manajemen Pemasaran Jasa, Yogyakarta: Andi Offset Hermawan Kertajaya The 10 Credos of Compassionate Marketing (www.markplusnco.com) Kotler, Philip (1997) Manajemen Pemasaran jilid I, Jakarta: PT Prenhallindo Mulyadi (2001), Alat manajemen kontemporer untuk pelipatgandaan kinerja keuangan perusahaan: Balance scorecard, Jakarta: Salemba Empat Renborg, Greta (1997) Marketing Library Service. How it all began (s.l.) 63rd IFLA General Conference- (www.ifla.org/IV/ifla63reng.htm) Trahn, Isabella [et al.] (2001); Analysing The Quality Gap: Reflections on results from an Australasian University 21 libraries standars survey of service quality; Australian Library and Information Association (www.seven-sisters.com/B0008171YU.shtml)

Iklan

Read Full Post »

SEJARAH PERPUSTAKAAN

Perkembangan perpustakaan tidak lepas dari sejarah manusia, karena Perpustakaan merupakan produk manusia.Dalam sejarahnya, manusia mula – mula mengembara ke berbagai tempat. Kehidupan ini disebut kehidupan nomaden Pada perkembangan berikutnya manusia mulai menetap dengan mata pencaharian utama yakni bertani. Dalam kehidupan mengembara dan bertani, manusia memperoleh pengalaman bahwa bila dia memberi tanda pada sebuah batu, pohon, papan, lempengan serta benda lainnya, ternyata manusia dapat menyampaikan berita ke manusia lainnya. Pesan ini dipahatkan pada batu atau pohon atau benda lainny, manusia mulai berkomunikasi dengan kelompok lain melalui bahasa tulisan.Bila kegiatan memberi tanda tersebut berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya maupun dari suku ke suku lainnya maka banyak dugaan Perpustakaan dalam benuknya yang sangat sederhana sudah dikenal ketika manusia mulai melakukan kegiatan penulisan ke berbagai benda. Benda itu dapat diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya ataupun dapat dibaca suku lain. Walaupun demikian, kita tidak pernah mengtahui kapan Perpustakaan pertama kali berdiri.

SUMERIA DAN BABYLONIA

Perpustakaan sedah dikenal sejak 3000 tahun yang lalu. Penggalian di bekas kerajaan Sumeria menunjukkan bahwa bangsa Sumeria sekitar 3000 tahun sebelum Masehi telah menyalin rekening, jadwal kegiatan, pengetahuan yang mereka peroleh dalam bentuk lempeng tanah liat(clay tablets). Tulisan yang dpergunakan masih berupa gambar (pictograph), kemudian ke aksara Sumeria. Kebudayaan Sumeria termasuk kepercayaan , praktek keagamaan, dan tulisan Sumeria, kemudian diserap oleh Babylonia yang menaklukkan Sumeria. Tulisan Sumeria kemudian diubah menjadi tulisan paku (cuneiform) karena mirip paku. Semasa pemerintahan raja Ashurbanipal dan Assyria (sekitar tahun 668-626 sebelum Masehi) didirikan Perpustakaan kerajaan di ibukota Niniveh, berisi puluhan ribu lempeng tanah liat yang dikumpulkan dari segala penjuru kerajaan.. Untuk mencatat koleksi digunakan system subjek serta tanda pengenal pada tempat penyimpanan. Banyak dugaan bawa Perpustakaan ini terbuka bagi kawula kerajaan.

MESIR

Pada masa yang hampir bersamaan, peradaban Mesir Kuno pun berkembang. Teks tertulis paling awal yang ada di Perpustakaan Mesir berasal dari sekitar tahun 40000 SM, namun gaya tulisannya berbeda dengan tulisan sumeria. Orang Mesir menggunakan tulisan yang disebut hieroglyph. Tujuan heroglyph ialah memahatkan pesan terakhir di monumen karena tulisan dimaksudkan untuk mengagungkan raja sedangkan tulisan yang ada di tembok dan monumen dimaksudkan untuk memberi kesan kepada dunia. perpustakaan Mesir bertamabah maju berkat penemuan penggunaan rumput papyrus sekitar tahun1200 SM. Untuk membuat lembar papyrus maka isi batang papyrus dipotong menjadi lembaran tipis, kemudian dibentangkan satu demi satu dan tumpuk demi tumpuk. Kedua lapisa kemudia dilekatkan dengan lem, ditekan, diratakan, dan dipukul sehingga permukaannya rata. Dengan demikian, permukaan lembaran papyrus dapat digunakan sebagai bahan tulis, sedangkan alat tulisnya berupa pena sapu dan tinta. Umumnya tulisan Hierolgyph hanya dipahami oleh pendeta karena itu papyrus banyak ditemukan di kuil-kuil brisi pengumuman resmi, tulisan keagamaan, filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Pengembangan perpustakaan Mesir terjadi semasa raja Khufu, Khafre, dan Ramses II sekitar tahun 1250 SM. Perpustakaan raja Ramses II memiliki sekitar 20.000 buku.

YUNANI

Peradaban Yunani mengenal tulisan Mycena sekitar tahun 1500 SM, kemudian tulisan tersebut lenyap. Sebagai penggantinya, orang Yunani menggunakan 22 aksara temuan orang Phonicia, kemudian dikembangkan 26 aksara seperti yang kita kenal dewasa ini. Yunani mulai mengenal Perpustakaan milik Peistratus (dari Athena) dan Polyerratus (dari Samos) sekitar abad ke-6 dan ke-7 SM. Perpustakaan berkembang pula semasa kejayaan Yunani dibawah pimpinan Pericles sekitar abad ke-5 SM. Pada saat itu, membaca merupakan pengisi waktu senggang serta merupakan

awal dimulainya perdagangan buku. Filosof Aristoteles dianggap sebagai orang pertam kali yang mengumpulkan, menyimpan, dan memanfaatkan budaya masa lalu. Koleksi Aristotels kelak dibawa ke Roma. Perkemabangan perpustakaan zaman kuno Yunani mencapai puncaknya semasa Abad Hellenisme, yang ditandai dengan penyebaran ajaran dan kebudayaan Yunani. Ini terjadi berkat penaklukan Alexander Agung beserta penggantinya, pembentukan kota baru Yunani. Dan pemngembangan pemerintahan Monarchi. Perpustakaan utam terletak di kota Alexandria, Msir, dan kota pergamum, di Asia Kecil. Di Kota Alexandria berdiarilah sebuah Museum, salah satu bagian utamnya ialah Perpustakaan dengan tujuan mengumpulkan teks Yunani dan manuskrip segala bahasa dari semua penjuru. Berkat usahan Demetrius dari Phalerum, perpustakaan Alexandria berkembang pesat sehingga memiliki 200.000 gulungan papyrus hingga natinya mencapai 700.000 gulungan pada abad pertama SM. Perpustakaan kedua disebut Serapeum, memiliki 42.800 gulungan terpilih, kelak berekembang hingga 100.000

gulungan. Semua gulungan papyrus ini disunting, disusun, menurut bentuknya, dan diberi catatan untuk disusun menjadi sebuah bibliografi sastra Yunani berjumlah 120 jilid. Di Asia kecil kota Pergamum, seperti halnya Alexandria berkembang menjadi pusat belajar serta kegiatan sastra. Pada abad ke-2 SM, Eumenes II mendirikan sebuah Perpustakaan serta mulai mengumpulkan semua manuskrip, bahkan bila perlu membuat salinan manuskrip lain. Untuk menyalin ini digunakan sejumlah besar papyrus yang diimpor dari Mesir. Karena khawatir persediaan papyrus di Mesir akan habis serta rasa iri akan pesaingnya maka raja Mesir menghentikan ekspor papyrus ke Pergamum. Akibatnya, perpustakaan Pergamum harus mencari bahan tulis lain kecuali papyrus. Maka dikembangkanlah bahan tulis baru yang disebut perchamen artinya kulit binatang, terutama biri-biri atau anak lembu. Sebenarnya bahan tulis ini sudah lama dikenal Yunani, namun karena harganya lebih mahal dari papyrus maka papiruslah yang digunakan. Parchmen dikembangkan sehingga akhirnya menggantikan papyrus sebagai bahan tulis hingga penemuan mesin cetak pada abad menengah. Koleksi perpustakaan Pergamum mencapai 100.000 gulungan. Dalam perkembangannya, koleksi perpustakaan Pergamum nantinya diserahkkan ke Perpustakaan Alexandria sehingga Perpustakaan Alxandria menjadi Perpustakaan terbsar pada zamannya.

ROMA

Yunani mempengaruhi kehidupan budaya dan intelektual Roma. Ini terbukti bahwa banyak orang Roma mempelajari sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan Yunani, bahkan juga bertutur bahasa Yunani. Perpustakaan pribadi mulai tumbuh karena perwira tinggi banyak yang membawa rampasan perang termasuk buku. Julius Caesar bahkan memerintahkan agar Perpustakaan terbuka untuk umum. Perpustakaan kemudian tersebar ke seluruh bagian kerajaan Roma. Pada

masa ini diganti dengan codec, yang merupakan kumpulan parchmen, diikat serta dijilid menjadi satu sperti buku yang kita kenaldewasa ini. Codex mulai digunakan secara besar-besaran abad ke-4. Perpustakaan mulai mengalami kemunduran tatkala kerajaan Roma mulai mundur. Akhirnya, yang tinggal hanyalah Perpustakaan biara, yang lain uumnya lenyap akibat serangan orang-orang barbar.

BYZANTIUM

Kaisar Konstantin Agung menjadi raja Kerajaan Roma barat dan Timur pada tahun 324. Ia memilih ibukota di Byzantium, kemudian diubah menjadi Konstantinopel. Ia mendirikan Perpustakaan kerajaan serta menekankan karya Latin karena bahasa Latin merupakan bahasa resmi hingga adad ke-6. Koleksi ini nanti ditambah dengan karya orang Kristen dan non-Kristen, baik dalam bahasa Yunani maupun Latin. Koleksinya tercatat hingga 120.000 buku. Pada waktu itu gereja merupakan pranata kerajaan paling penting. Karena adanya ketentuan bahwa seorang uskup harus memiliki sebuah perpustakaan maka perpustakaan gereja berkembang. Kerajaan Byzantium kaya, berpenduduk padat, secara kultural, intelektual dan politiknya cukup matang yang diperkaya oleh ajaran Yunani dan Timur serta dipengaruhi tradisi Roma dalam pemerintahan. Kerajaan in bertahan hingga abad ke-15. Antara pertengahan abad ke tujuh hingga pertengahan abad ke-9 terjadi kontoversi mengenai ikonoklasme yaitu penggambaran Yesus dan orang kudus lainnya pada benda. Akibat larangan ini banyak biara ditutup, artanya disita. Akibatnya lagi, biarawan Yunani mengungsi ke Italia. Selam periode ini, hiasan manuskrip dengan menggunkan huruf rias, gulungan maupun miniatur tidak disgunakan dalam karya

keagamaan maupun Bibel. Setelah kontroversi berakhir, minat terhadap karya Yunani kuno berkembang lagi. Selama 300 tahunkarya Yunani disalin, ditulis kembali, diberi komentar, dibuatkan ringkasan sastra Yunani bahkan juga dikembangkan ensiklopedia dan leksikon mengenai Yunani.

ARAB

Agama Islam muncul pada abad ke-7. Islam kemudian mulai menyebar ke daerah sekitar Arab. Dengan cepat pasukan Isam menguasai Syria, Babylonia, Mesopotamia, Persia, Mesir, seluruh bagian utara Afrika, serta menyeberang ke Spanyol. Orang Arab berhasil dalam bidang Perpustakaan dan berjasa besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan matmatika ke Eropa.

Dalam Abad ke-8 dan ke-9, tatkala Konstantinopel mengalami kemandegan dalam hal karya sekuler maka Bagdad berkembang sebagai pusat kajian karya Yunani. Ilmuwan Muslim mulai memahami pikiran Aristoteles. Ilmuwan Muslim mengkaji dan menerjemahkan karya filsafat, pengetahuan dan kedokteran Yunani ke dalam bahasa Arab; kadangkadang dari versi bahasa Syriac ataupun Aramaic. Puncak kejayaan terjemahan ni terjadi semas pemerintahan Abbasid Al-Mamun, yang menidrikan rumah kebijakan pada tahun 810, sebuah lembaga studi yang menggabungkan unsure erpustakaan, akademi, dan biro terjemahan. Selam abad ke-8, ilmu alam, matematika, dan kedokteran benar-benar dipelajari, karya Plato, Aristoteles, Hippocrates, dan Galen diterjamahkan ke dalam bahasa Arab, termasuk pula penelitian asli dalam bidang astrologi, alkhemi, dan magis. Dalam penaklukan ke timur, orang Arab berhasil mengetahui cara pembuatan kertas dari orang Cina; pada abad ke-8 di Bagdad telah berdiri pabrik kertas. Teknik pembuatan kertas selama hamper lima adab dikuasai orang Arab. Karena harganya murah, banyak, serta mudah ditulis maka produksi buku melonjak dan Perpustakaan pun berkembang. Tercatat perpustakaan mesjid dan lembaga pedidikan. Perpustakaan kota Shiraz memiliki catalog, disusun menurut tempat serta dikelola oleh staf perpustakaan. Pada abad ke- 11, Perpustakaan Kairo memiliki sekitar 150.000 buku. Di Spanyol, orang Arab mendirikan Perpustakaan Cordoba yang memiliki 400.000 buku. Di Perpustakaan Cordoba, Toledo, dan Seville karya klasik diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa Syriac. Ketika Spanyol direbut tentara Kristen, ribuan karya klasik ini diketemukan, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin kemudian disebar ke seluruh Eropa.

RENAISSANCE

Renaissance mula pada abad ke-14 di Eropa Barat. Secara tidak langsung.Renaissance tumbuh akibat pengungsian ilmuwan Byzantine dari Konstantinope. Mereka lari karena ancaman pasukan Ottoman dari Turki. Sambil mengungsi, ilmuwan ini membawa juga manuskrip penulis kuno. Ilmuwan Italia menyambut kedatangan ilmuwan Byzantine ini serta mendorong pengembangan kajian Yunani dan Latin. Karya ini kemudian tersebar ke Eropa Utara dan Barat, sebagian diantarnya disimpan di Perpustakaan biara maupun universitas yang mulai tumbuh. (NM/berbagai sumber)

Read Full Post »

ABSTRAK

Pendidikan didalam masyarakat yang telah maju atau didalam masyarakat yang primitif pun mempunyai tiga aspek yang menonjol : (a) Aspek teknis : yaitu mempersiapkan setiap warga masyarakat untuk bisa mendapatkan penghidupan yang layak dan halal, (b) Aspek sosial : yaitu mempersiapkan warga masyarakat untuk dapat melanjutkan kehidupan masyarakat itu, (c) Aspek moral dan spiritual untuk mengembangkan akhlaqul karimah dan mencerdaskan setiap warga masyarakat. Ketiga aspek tersebut jalin menjalin menjadi satu, sedang proses mengajar bersifat insidensil dan biasanya terbatas pada soal-soal yang dikerjakan oleh orang dewasa saja. Anak-anak menerima pengetahuan sosial, teknis dan agama dengan cara informal atau dengan jalan meniru-niru, dengan tujuan agar mereka dapat melengkapi dirinya bagi kehidupan di kemudian hari. Kata kunci : Perpustakaan Pendidikan PENDAHULUAN Perhatian Islam terhadap Ilmu Pengetahuan sudah sama-sama kita ketahui dengan diturunkannya Al-Qur’an Surat “ Al-‘Alaq” pada permulaan nubuwwah Nabi Muhammad SAW dan ayat-ayat lain yang senada dengan Al – ‘Alaq yang tersebar di dalam Al-Qur’an. Dengan Al-Qur’an ( pena ) yang disebutkan dalam Al-‘Alaq tersebut maka manusia merumuskan buah fikirannya dan menyatakan pendapatnya. Dengan pena seorang Kepala Negara dapat menyatakan perang dan dapat menyatakan perdamaian. Buah pikiran yang dirumuskan dalam bentuk tulisan inilah yang terdapat di dalam buku-buku yang terdapat di dalam perpustakaan. Dikala Nabi Muhammad SAW harus memusatkan perhatiannya untuk melawan serangan-serangan Kafir Quraisy, sedetikpun beliau tidak pernah alpa terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Tawanan-tawanan perang Badar dibebaskan, apabila mereka dapat mengajarkan tulis baca bagi 10 orang anak muslim. Sebagaimana kita ketahui maklumi bahwa Nabi kita Muhammad SAW mempunyai niat yang mulia yakni memelihara Ilmu Pengetahuan dan Kesusastraan. Sarjana-sarjana Islam mendirikan Perpustakaan Islam, Perpustakaan Masjid, Perpustakaan Madrasah, Perpustakan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Pesantren. Demikianlah sekedar suatu fragmenta dari sejarah Perpustakaan Islam di masa yang lalu. Sekarang timbul pertanyaan bagi bangsa kita Indonsia : “Apa usaha umat Islam dalam lapangan perpustakaan sesudah kita mendengar bahkan hafal wahyu Tuhan YME yang menyuruh kita membaca?” Semua sependapat bahwa perpustakaan merupakan barometer kemajuan suatu bangsa, artinya maju dan mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari perpustakaannya. Untuk itu kita mencoba merintis perkembangan Perpustakaan Islam, di dalamnya Perpustakaan Pesantren. Faham atau konsep “ store house period “ yang menganggap bahwa perpustakaan sama dengan gudang buku yang tugasnya hanya untuk “mengumpulkan, merawat dan menyediakan buku “harus sudah ditinggalkan, kalau ingin mengikuti irama perkembangan ilmu pengetahuan. Langkah sejarah telah membawa perpustakaan memasuki zaman “ Educational and Research Function” dengan faham baru yang mengangkat perpustakaan pada kedudukan yang terhormat, yaitu sebagai “Pusat Kegiatan Pendidikan dan Aktifitas Ilmiah “. Demikian pulalah seharusnya Perpustakaan Pesantren sehingga perpustakaan merupakan “ jantung “ pesantren dan dipakai untuk memiliki mutu tidaknya suatu pesantren. Dalam kedudukan sebagai pengemban martabat pesantren, perpustakaan harus menjalankan semua kegiatan yang sesuai dengan fungsi, program dan tujuan pesantren bernaung. Bimbingan dan bantuan pimpinan pesantren, kerjasama dari para pengajar dan santri merupakan syarat yang diperlukan sehingga perpustakaan dapat membina diri menjadi pusat kegiatan pendidikan dan aktifitas ilmiah. Sistem pendidikan yang ada dalam suatu pesantren akan ikut mewarnai perpustakaannya. Koleksinya disesuaikan dengan kondisi di pesantren yang bersangkutan dan diproses dengan cara yang berlaku dengan pedoman pengolahan bahan pustaka baik yang berupa buku maupun non buku dan audio visual serta terbitan berkala. Disamping itu tenaga pengolah nya perlu dilatih/ditatar tentang pengolahan dan pelayanan serta pengadaan bahan pustakanya sehingga dapat menunjang dalam kegiatan belajar mengajar, para santri tidak pasif, melalui perpustakaan pesantren santri dapat dilatih kearah pendidikan modern. Peran perpustakaan dalam memberikan bimbingan kepada para santri untuk giat membaca juga sangat menentukan adanya minat baca. Dengan koleksi yang lengkap, Perpustakaan Pesantren akan dapat memperkaya pengetahuan para santri, menyuburkan daya kritik (critischezim) dan membantu pengembangan bakat serta kegemaran para santri. Hal ini akan sejajar dengan sistem pendidikan modern, dimana kegiatan dan kreatifitas santri lebih dipentingkan dari pada menerima secara pasif. Melalui Perpustakaan Pesantren, santri dapat dilatih kearah pendidikan modern. Telah menjadi keyakinan umum bahwa membaca itu adalah suatu hal yang baik. Membaca akan membawa seseorang kepada tujuan-tujuan yang diinginkannya dan bahwa buku-buku itu mempunyai daya kekuatan yang dapat merubah keadaan masyarakat. Oleh karena itu, minat baca harus mendapat perhatian khusus oleh dunia Pesantren. Tidak jarang kita jumpai bahwa para santri banyak membaca karena tuntutan adanya ujian-ujian atau hanya sekedar memenuhi kewajiban yang dibebankan oleh para guru dan kyai. Cara yang baik untuk membina minat baca ini ialah membiarkan para santri memilih buku yang baik oleh mereka dan untuk mereka. Para santri harus dibiasakan membaca buku dan menyampaikan pendapatnya tentang buku yang telah dibacanya. Di samping itu, peranan Perpustakaan Pesantren dalam memberikan bimbingan kepada para santri untuk giat membaca juga sangat menentukan adanya minat baca . Akhrinya perpustakaan juga dapat mengadakan ceramah dalam suatu topik tertentu atau diskusi yang referensi pembicaraannya kembali pada bahan-bahan yang ada di perpustakaan. PERANAN PERPUSTAKAAN PESANTREN DALAM PENDIDIKAN Pendidikan di dalam masyarakat yang maju atau di dalam masyarakat primitif pun mempunyai tiga aspek yang menonjol, seperti yang disebutkan pada awal pembicaraan (pada abstrak) yaitu : a. Aspek teknis : yaitu mempersiapkan setiap warga masyarakat untuk bisa mendapatkan penghidupan yang layak dan halal. b. Aspek sosial : yaitu mempersiapkan warga masyarakat untuk dapat melanjutkan kehidupan masyarakat itu. c. Aspek moral dan spiritual untuk mengembangkan akhlaqul karimah dan mencerdaskan setiap warga masyarakat. Ketiga aspek tersebut jalin menjalin menjadi satu, sedang proses mengajar bersifat insidensil dan biasanya terbatas pada soal-soal yang dikerjakan oleh orang dewasa saja. Anak-anak menerima pengetahuan sosial, teknis dan agama dengan cara informal atau dengan jalan meniru-niru, dengan tujuan agar mereka dapat menlengkapi dirinya bagi kehidupan di kemudian hari. Metode mengajar dan belajar pun sederhana sekali, yakni menerangkan dengan media dongeng-dongeng kepada para santri. Dan pelajaran diperteguh dengan senyum atau membentak-bentak atau memukulnya, jika anak didik membuat kesalahan atau memberi sepotong makanan sebagai hadiah bagi yang cakap. Peranan sebuah Perpustakaan Pesantren adalah bagian dari tugas pokok yang harus dijalankan itu ikut menentukan dan mempengaruhi tercapainya misi dan tujuan perpustakaan. Setiap perpustakaan yang dibangun akan mempunyai makna apabila dapat menjalankan peranannya dengan sebaik-baiknya. Peranan tersebut berhubungan dengan keberadaan, tugas dan fungsi perpustakaan. Peranan yang dapat dijalankan oleh perpustakaan antara lain adalah : 1. Secara umum perpustakaan merupakan sumber informasi, pendidikan, penelitian, preservasi dan pelestari khasanah budaya bangsa serta tempat rekreasi yang sehat, murah dan bermanfaat. 2. Perpustakaan merupakan media atau jembatan yang berfungsi menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan para pemakainya ( santri-santrinya ) 3. Perpustakaan mempunyai peranan sebagai sarana untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai, dan antara penyelenggara perpustakaan dengan masyarakat sekitar pesantren yang dilayani. 4. Perpustakaan dapat pula berperan sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca, dan budaya baca, melalui penyediaan berbagai bahan bacaan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para santri. Oleh karena itu apabila tidak ada perpustakaan, atau perpustakaan yang ada kurang berperan dengan baik, mungkin anggota masyarakat/santri yang baru belajar membaca, atau sedang membiasakan diri membaca, dan yang membutuhkan sumber bacaan, dapat berkurang secara perlahan-lahan dan hilang semangatnya. 5. Perpustakaan dapat berperan aktif sebagai fasilitator, mediator, dan motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya. 6. Perpustakaan merupakan agen perubahan, agen pembangunan, dan agen kebudayaan umat manusia. Sebab berbagai penemuan, sejarah, pemikiran, dan ilmu pengetahuan yang telah ditemukan pada masa yang lalu, yang direkam dalam bentuk tulisan atau bentuk tertentu yang disimpan di perpustakaan. Koleksi tersebut dapat dipelajari, diteliti, dikaji, dan dikembangkan oleh generasi sekarang, dan kemudian dipergunakan sebagai landasan penuntun untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. 7. Perpustakaan berperan sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anggota masyarakat/santri dan pengunjung perpustakaan. Mereka dapat belajar secara mandiri (otodidak), melakukan penelitian, menggali, memanfaatkan dan mengembangkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan. 8. Petugas perpustakaan dapat berperan sebagai pembimbing dan memberikan konsultasi kepada pemakai atau melakukan pendidikan pemakai ( users education ), dan pembinaan serta menanamkan pemahaman tentang pentingnya perpustakaan bagi orang banyak (para santri). 9. perpustakaan berperan dalam menghimpun dan melestarikan koleksi bahan pustaka agar tetap dalam keadaan baik semua hasil karya umat manusia yang tak ternilai harganya. 10. Perpustakaan dapat berperan sebagai ukuran (barometer) atas kemajuan masyarakat dilihat dari intensitas kunjungan dan pemakaian perpustakaan. Sebab masyarakat yang sudah maju dapat ditandai dengan adanya perpustakaan yang sudah maju pula, sebaliknya masyarakat yang sedang berkembang biasanya belum memiliki perpustakaan yang memadai dan representative. 11. Secara tidak langsung, perpustakaan yang berfungsi dan telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dapat ikut berperan dalam mengurangi dan mencegah kenakalan remaja seperti tawuran, penyalah gunaan obat-obat terlarang, dan tindak indisipliner. Perpustakaan dengan bahan bacaan yang berisi pendidikan, informasi, dan rekreasi yang sehat dan positif, serta dipahami dan dijiwai oleh pembacanya (para remaja/santri). Selanjutnya materi bacaan tersebut masih mampu menggugah aspirasi, inspirasi, ide-ide dan gagasan dalam mengembangkan minat dan bakat. Mereka kemudian di arahkan untuk melakukan hal-hal yang positif dan produktif, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Di samping itu bahan-bahan bacaan tersebut berisi hal-hal tentang sebab dan akibat dari perbuatan yang negative, sehingga tidak perlu dilakukan karena akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Jika sebagian waktu dan kesempatan di isi dengan kegiatan belajar, membaca, dan melakukan hal-hal yang positif dan produktif, maka tidak ada atau kecil kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang negative, di sana perpustakaan dapat ikut berperan serta. Perpustakaan dapat berperan aktif dalam mencari / menelusur, membina dan mengembangkan serta menyalurkan hobi / kegemaran, minat, dan bakat yang dimiliki oleh masyarakat melalui berbagai kegiatan yang dapat diselenggarakan oleh perpustakaan. Kegiatan-kegiatan dimaksud antara lain melalui penelusuran bakat, minat, dan kemampuan yang dilakukan dengan mengadakan berbagai lomba, seperti melukis, baca puisi, mengarang, kuis dan lain-lain sehingga para peserta dapat menyalurkan, mengimplementasikan dan mengembangkan bakat dan kreatifitasnya dengan baik yang kelak dapat dijadikan salah satu pegangan dalam kehidupannya. Tugas pokok dan fungsi sebuah perpustakaan adalah untuk menjabarkan peran sebagaimana diuraikan diatas. Tugas adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan atau sesuatu yang ditentukan untuk dikerjakan. Tugas perpustakaan artinya suatu kewajiban yang telah ditetapkan untuk dilakukan di dalam perpustakaan. Setiap perpustakaan mempunyai tugas-tugas sebagaimana yang telah diberikan oleh lembaga induk yang menaunginya. Pada dasarnya sebuah perpustakaan tidak beridiri sendiri, melainkan berada di dalam suatu ruang lingkup atau di bawah koordinasi suatu organisasi. Perpustakaan Nasional RI, misalnya, merupakan salah satu Lembaga Pemerintah Non Departemen berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Perpustakaan umum merupakan salah satu perangkat pemerintah daerah berada dan bertanggung jawab kepada Kepala Daerah ( bupati / walikotamadya ). Perpustakaan Khusus / kedinasan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala unit kerja / instansi yang bersangkutan. Perpustakaan perguruan tinggi berada di dalam suatu lembaga pendidikan tinggi, demikian juga perpustakaan pesantren berada di lembaga pesantren yang bersangkutan ( perpustakaan modern maupun tradisional) Oleh karena itu kedudukan sebuah perpustakaan merupakan unsur penunjang dan tugasnya menjalankan sebagian dari tugas pokok organisasi. Menurut Keputusan Presiden RI Nomor 103 tahun 2001, Perpustakaan Nasional ( Perpusnas) RI bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Badan Perpustakaan Daerah atau lembaga yang sejenis di tingkat provinsi merupakan unsur penunjang pemerintah dan bertanggung jawab kepada Gubernur Kepala Daerah sedangkan tugasnya menyelenggarakan kegiatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi lainnya, terutama bagi masyarakat di wilayah yang bersangkutan. Perpustakaan perguruan tinggi, yang merupakan bagian dari lembaga pendidikan tinggi tersebut dan bertugas memfasilitasi program pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat atau Tri Dharma Perguruan Tinggi. Perpustakaan umum yang berada pada tingkat kabupaten / kota mempunyai tugas di bidang layanan informasi, pendidikan, rekreasi, preservasi dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan masyarakat secara luas. Sementara itu perpustakaan sekolah tugasnya adalah menunjang terselenggaranya proses belajar di sekolah yang bersangkutan. Sementara itu perpustakaan yang lain, pada prinsipnya mempunyai tugas menunjang kegiatan organisasi, karena keberadaan perpustakaan merupakan kebutuhan yang tidak kalah pentingnya seperti halnya bagian/perangkat yang lain. Selajutnya tugas-tugas sebuah perpustakaan dapat dijabarkan ke dalam fungsi-fungsi sesuai dengan ruang lingkup kegiatan organisasi yang bersangkutan. Satu hal yang paling substansial adalah dalam rangka melayani dan memenuhi kebutuhan informasi pemakai perpustakaan. Adapun volume, bobot, variasi, dan intensitas kegiatan perpustakaan tergantung kepada besar-kecilnya struktur organisasi, jumlah koleksi, karyawan, dan masyarakat yang dilayani. Namun yang tidak kalah penting adalah penerapan prinsip efisiensi yang didasarkan kepada konsep ramping struktur dan kaya fungsi. Maksudnya adalah untuk menghindarkan pemborosan, baik waktu, tenaga, barang, uang dan sebagainya yang juga disebut sumber daya perpustakaan. Fungsi atau fungsi-fungsi perpustakaan adalah suatu tugas atau jabatan yang harus dilakukan di dalam perpustakaan tersebut. Pada prinsipnya sebuah perpustakaan mempunyai tiga kegiatan utama yaitu : (1) menghimpun, (2) memelihara, (3) memberdayakan semua koleksi bahan pustaka. Selanjutnya fungsi-fungsi perpustakaan dapat dirinci sebagai berikut : – Pengadaan bahan pustaka, meliputi kegiatan : (a) menghimpun / mengumpulkan, (b) membeli, (c) menerima sumbangan / bantuan, (d) tukar –menukar, (e) menggandakan, (f) menerbitkan, (g) kerja sama koleksi. – Pengolahan mencakup : (a) registrasi, (b) pengecapan, (c) katalogisasi, (d) klasifikasi, (e) pengetikan kartu buku, (f) pengetikan kartu catalog, (g) pembuatan nomor barcode (sistem computer), (h) pembuatan perlengkapan buku ( label, slip buku, slip tanggal, sampul, dll ), (i) pembuatan lembar kerja, (j) penjajaran kartu (file), (k) penyusunan koleksi pada tempat tertentu (rak buku, majalah, Koran, lemari / laci dll ), (l) pemasukan data (data entry) – Layanan, meliputi kegiatan : (a) sirkulasi (peminjaman / pengembalian), (b) keanggotaan, (c) referensi, (d) bimbingan dan penyuluhan kepada pemakai, (e) layanan pembaca, (f) layanan unit perpustakaan keliling (perpustakaan umum) / layanan eksistensi, (g) penelitian, (h) layanan lain yang mungkin dilakukan, (i) pendidikan pemakai. – Pemasyarakatan / sosialisasi meliputi : (a) publikasi, (b) promosi, (c) mengundang tokoh, pakar, figure publik, (d) dan lain-lain. – Kerjasama layanan antar perpustakaan mencakup kegiatan ; (a) pengolahan, (b) katalog induk, (c) pembinaan dan pengembangan profesi, (d) system jejaring / jaringan – Untuk perpustakaan tertentu, dikembangkan fungsi: (a) penyusunan dan penerbitan bibliografi (b) abstrak, (c) indeks, (d) kumpulan karangan ilmiah ( makalah, skripsi, tesis, disertasi dll), (e) artikel, kliping, (f) dan lain-lain. – Pengembangan Sumber Daya Manusia, mencakup: (a) seminar, loka karya, pendidikan dan pelatihan, (b) program pendidikan formal, (c) keanggotaan organisasi profesi, (d) dan lain-lain. – Pembinaan dan Pengembangan Organisasi : (a) penelitian dan pengembangan, (b)pengelolaan/ manajemen perpustakaan, (c) studi banding, (d) menjalin mitra kerja, (e) dan lain-lain. – Melakukan upaya preservasi koleksi antara lain: (a) memelihara bahan pustaka, (b) merawat bahan pustaka, (c) melakukan penyiangan,(d) melakukan fumigasi, (e) menjaga temperature / suhu agar stabil, (f) mengatur ventilasi udara, (g) menjaga koleksi supaya tetap baik, (h) menjaga kebersihan perpustakaan, (i) dan lain-lain. – Membuat peraturan / tata tertib meliputi: (a) jadwal layanan, (b) persyaratan anggota, (c) peminjaman / pengembalian, (d) penghargaan dan sanksi, (e) apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pengunjung dalam perpustakaan,(f) suasana tertib di perpustakaan. – Penerapan dan pemanfaatan teknologi informasi untuk: (a) seleksi dan pengolahan koleksi, (b) pengolahan, (c) layanan, (d) penelusuran, (e) akses informasi, (f) jaringan, (g) komunikasi dan kerja sama, (h) promosi dan publikasi, (i) sosialisasi, promosi, dan publikasi. – Menciptakan dan mengembangkan iklim di perpustakaan agar: (a) masyarakat tahu tentang arti, kegunaan, kegiatan perpustakaan, (b) masyarakat tertarik, berminat, tergugah untuk ke perpustakaan, (d) pengunjung merasakan dilayani dengan baik dan memuaskan, (e) merasa nyaman (betah / tahan) di perpustakaan, (f) ingin sering kembali ke perpustakaan, (g) merasa mendapatkan perhatian, bimbingan atau bantuan oleh petugas perpustakaan, (h) merasa mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, (i) memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya.¹ Keberadaan, peran, tugas dan fungsi perpustakaan yang telah dilaksanakan tersebut dimaksudkan dan diarahkan untuk melayani masyarakat pemakai. Pada umumnya layanan perpustakaan bersifat sosial dan nirlaba. Perpustakaan didirikan tidak untuk mencari keutungan materi atau bersifat komersial, meskipun di dalamnya tidak menutup kemungkinan memerlukan biaya. Besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membangun dan menyelenggarakan perpustakaan seperti untuk pengadaan koleksi, tenaga pengelola dan biaya operasional tidak mungkin ditutup dengan “pendapatan” perpustakaan. Biaya yang mungkin diperlukan biasanya dapat terjangkau oleh pemakai perpustakaan. Kegiatan layanan perpustakaan umumnya berbentuk jasa dan bukan barang. Perpustakaan perlu memperhatikan sejumlah factor agar kegiatannya dapat berjalan dengan baik. Faktor – factor itu antara lain adalah: (1) layanan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, (2) diusahakan agar pelanggan merasa senang dan puas, (3) prosesnya mudah, sederhana, dan efisien, (4) caranya cepat dan tepat waktu dan tepat sasaran, (5) diciptakan suasana ramah, supel, dan menarik, (6) bersifat membimbing, namun tidak terkesan menggurui, (7) dapat menimbulkan perasaan ingin tahu lebih jauh buat pelanggan, (8) menimbulkan kesan baik, sehingga terdorong ingin sering ke perpustakaan. Untuk dapat menciptakan suatu system layanan perpustakaan seperti yang diinginkan, perlu diperhatikan beberapa hal yang ikut mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar perpustakaan, sifatnya manusiawi, administrative, teknis, dan non teknis. Hal-hal tersebut antara lain: suasana kerja yang kondusif, (2) tim kerja yang solid dan kompak, (3) komunikasi yang harmonis antara pimpinan dan bawahan, antara bawahan dan bawahan, antara sesama atasan, ke dalam dan ke luar organisasi, (4) ketenangan dan kesenangan bekerja pegawai, (5) kesejahteraan pegawai, (6) perhatian dan perlindungan pimpinan terhadap bawahan, (7) kebersamaan dan perasaan senasib seperjuangan, (8) faktor kemungkinan pengembangan karier dan promosi, (9) keteladanan pemimpin, (10) kelengkapan sarana dan prasarana, (11) keamanan dan keselamatan kerja. Sebuah perpustakaan yang sehat antara lain dapat diamati dari sudut kinerja yang mekanistis, proporsedural, dalam suasana yang harmonis. Pada gilirannya akan menunjukkan citra yang baik dari pandangan masyarakat. Semua itu memerlukan proses, kerja keras, yang berlangsung berkelanjutan. Melihat hal-hal tersebut diatas maka tujuan pendidikan hanya untuk memelihara tradisi yang ada di dalam masyarakat atau dengan lain perkataan agar “ the way of life “ masyarakat tetap intact dan sebagai akibat masyarakat semacam ini tetap statis. Didalam masyarakat yang sudah maju, ketiga aspek pendidikan tersebut ada dan pendidikan dipandang sebagai hal yang ampuh yang akan mengantar masyarakat kearah perubahan dan pertumbuhan yang konstruktif dan alat mekanisme yang memungkinkan kelompok manusia selalu memperbaharui dirinya. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perubahan seseorang maupun kebudayaan sesuatu masyarakat, seperti urbanisasi, kemajuan tehnik mass communication dan lain-lain. Karena pendidikan dan anak didik selalu “involve” didalamnya, yaitu perubahan-perubahan yang ada di luar dinding sekolah maka pendidikan baru akan berhasil apabila pendidik sanggup menempatkan diri digaris depan dari perubahan-perubahan ini. Inilah fungsi utama dari pendidikan yang hanya mungkin untuk menanggapi perubahan-perubahan ini dimiliki pengetahuan yang luas tentang manusia dan dunianya. Berhubung dengan hal-hal tersebut, maka lembaga-lembaga pendidikan harus dilengkapi dengan perpustakaan yang up to date dengan laboratorium, studio dan lain-lain fasilitas. Untuk mendapatkan anak didik yang skilled dan wel adjusted, maka didalam profesi guru pun terjadi banyak perubahan dan spesialisasi. Dalam hal yang demikian ahli perpustakaan ikut pula berkepentingan, seperti dalam perencanaan dan pembinaan sistem pendidikan, penyuluhan dan bimbingan bagi anak didik di dalam proses belajar mengajar. Pada waktu yang silam para guru banyak memakai metode verbalistis dan memakai papan tulis, para anak didik belajar secara mengulang-ulang bahan pelajaran, menghafal tidak mengetahui secara pasti akan manfaat baginya. Proses belajar semacam ini menjadikan para siswa jemu terhadap pelajarannya. Pada waktu ini cara-cara tersebut telah berubah kearah perbaikan. Para guru dan petugas perpustakaan sudah seharusnya menitik beratkan kepada individualized instruction suatu metode yang lebih menekankan kontak jiwa dengan jiwa ( contact of mind ) antara guru dengan petugas perpustakaan disatu pihak dengan siswa dilain pihak. Dengan sistem ini si pendidik tidak lagi menjadi “ a walking encyclopedia” didalam kelas tetapi bersifat sebagai pembimbing yang baik. Demikian pula seorang petugas perpustakaan diluar kelas. Dengan metode ini anak didik dipandang sebagai seorang individu yang penuh. Sehingga dapat menghasilkan sfeer belajar yang baik. Partisipasi yang aktif dari anak didik didalam proses pendidikan ini akan tercipta dan pendidikan menjadi two way traffic yang menyenangkan bagi guru maupun siswa. KESIMPULAN DAN SARAN Fungsi utama dari pendidikan yang hanya mungkin untuk menanggapi perubahan-perubahan ini dimiliki pengetahuan yang luas tentang manusia dan dunianya. Berhubung dengan hal-hal tersebut, maka lembaga-lembaga pendidikan harus dilengkapi perpustakaan yang up to date dengan laboratorium, studio dan lain-lain fasilitas terutama Perpustakaan Pesantren yang ada pada saat ini.

Read Full Post »

ASAL MULA PERPUSTAKAAN

Perkembangan perpustakaan tidak lepas dari sejarah manusia, karena Perpustakaan merupakan produk manusia. Dalam sejarahnya, manusia mula – mula mengembara ke berbagai tempat. Kehidupan ini disebut kehidupan nomaden Pada perkembangan berikutnya manusia mulai menetap dengan mata pencaharian utama yakni bertani. Dalam kehidupan mengembara dan bertani, manusia memperoleh pengalaman bahwa bila dia memberi tanda pada sebuah batu, pohon, papan, lempengan serta benda lainnya, ternyata manusia dapat menyampaikan berita ke manusia lainnya. Pesan ini dipahatkan pada batu atau pohon atau benda lainny, manusia mulai berkomunikasi dengan kelompok lain melalui bahasa tulisan.

Bila kegiatan memberi tanda tersebut berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya maupun dari suku ke suku lainnya maka banyak dugaan Perpustakaan dalam benuknya yang sangat sederhana sudah dikenal ketika manusia mulai melakukan kegiatan penulisan ke berbagai benda. Benda itu dapat diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya ataupun dapat dibaca suku lain. Walaupun demikian, kita tidak pernah mengtahui kapan Perpustakaan pertama kali berdiri.

SUMERIA DAN BABYLONIA

Perpustakaan sedah dikenal sejak 3000 tahun yang lalu. Penggalian di bekas kerajaan Sumeria menunjukkan bahwa bangsa Sumeria sekitar 3000 tahun sebelum Masehi telah menyalin rekening, jadwal kegiatan, pengetahuan yang mereka peroleh dalam bentuk lempeng tanah liat(clay tablets). Tulisan yang dpergunakan masih berupa gambar (pictograph), kemudian ke aksara Sumeria. Kebudayaan Sumeria termasuk kepercayaan , praktek keagamaan, dan tulisan Sumeria, kemudian diserap oleh Babylonia yang menaklukkan Sumeria. Tulisan Sumeria kemudian diubah menjadi tulisan paku (cuneiform) karena mirip paku. Semasa pemerintahan raja Ashurbanipal dan Assyria (sekitar tahun 668-626 sebelum Masehi) didirikan Perpustakaan kerajaan di ibukota Niniveh, berisi puluhan ribu lempeng tanah liat yang dikumpulkan dari segala penjuru kerajaan.. Untuk mencatat koleksi digunakan system subjek serta tanda pengenal pada tempat penyimpanan. Banyak dugaan bawa Perpustakaan ini terbuka bagi kawula kerajaan.

MESIR

Pada masa yang hampir bersamaan, peradaban Mesir Kuno pun berkembang. Teks tertulis paling awal yang ada di Perpustakaan Mesir berasal dari sekitar tahun 40000 SM, namun gaya tulisannya berbeda dengan tulisan sumeria. Orang Mesir menggunakan tulisan yang disebut hieroglyph. Tujuan heroglyph ialah memahatkan pesan terakhir di monumen karena tulisan dimaksudkan untuk mengagungkan raja sedangkan tulisan yang ada di tembok dan monumen dimaksudkan untuk memberi kesan kepada dunia. perpustakaan Mesir bertamabah maju berkat penemuan penggunaan rumput papyrus sekitar tahun1200 SM. Untuk membuat lembar papyrus maka isi batang papyrus dipotong menjadi lembaran tipis, kemudian dibentangkan satu demi satu dan tumpuk demi tumpuk. Kedua lapisa kemudia dilekatkan dengan lem, ditekan, diratakan, dan dipukul sehingga permukaannya rata. Dengan demikian, permukaan lembaran papyrus dapat digunakan sebagai bahan tulis, sedangkan alat tulisnya berupa pena sapu dan tinta. Umumnya tulisan Hierolgyph hanya dipahami oleh pendeta karena itu papyrus banyak ditemukan di kuil-kuil brisi pengumuman resmi, tulisan keagamaan, filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Pengembangan perpustakaan Mesir terjadi semasa raja Khufu, Khafre, dan Ramses II sekitar tahun 1250 SM. Perpustakaan raja Ramses II memiliki sekitar 20.000 buku.

YUNANI

Peradaban Yunani mengenal tulisan Mycena sekitar tahun 1500 SM, kemudian tulisan tersebut lenyap. Sebagai penggantinya, orang Yunani menggunakan 22 aksara temuan orang Phonicia, kemudian dikembangkan 26 aksara seperti yang kita kenal dewasa ini. Yunani mulai mengenal Perpustakaan milik Peistratus (dari Athena) dan Polyerratus (dari Samos) sekitar abad ke-6 dan ke-7 SM. Perpustakaan berkembang pula semasa kejayaan Yunani dibawah pimpinan Pericles sekitar abad ke-5 SM. Pada saat itu, membaca merupakan pengisi waktu senggang serta merupakan awal dimulainya perdagangan buku. Filosof Aristoteles dianggap sebagai orang pertam kali yang mengumpulkan, menyimpan, dan memanfaatkan budaya masa lalu. Koleksi Aristotels kelak dibawa ke Roma.

Perkemabangan perpustakaan zaman kuno Yunani mencapai puncaknya semasa Abad Hellenisme, yang ditandai dengan penyebaran ajaran dan kebudayaan Yunani. Ini terjadi berkat penaklukan Alexander Agung beserta penggantinya, pembentukan kota baru Yunani. Dan pemngembangan pemerintahan Monarchi. Perpustakaan utam terletak di kota Alexandria, Msir, dan kota pergamum, di Asia Kecil. Di Kota Alexandria berdiarilah sebuah Museum, salah satu bagian utamnya ialah Perpustakaan dengan tujuan mengumpulkan teks Yunani dan manuskrip segala bahasa dari semua penjuru. Berkat usahan Demetrius dari Phalerum, perpustakaan Alexandria berkembang pesat sehingga memiliki 200.000 gulungan papyrus hingga natinya mencapai 700.000 gulungan pada abad pertama SM. Perpustakaan kedua disebut Serapeum, memiliki 42.800 gulungan terpilih, kelak berekembang hingga 100.000 gulungan. Semua gulungan papyrus ini disunting, disusun, menurut bentuknya, dan diberi catatan untuk disusun menjadi sebuah bibliografi sastra Yunani berjumlah 120 jilid.

Di Asia kecil kota Pergamum, seperti halnya Alexandria berkembang menjadi pusat belajar serta kegiatan sastra. Pada abad ke-2 SM, Eumenes II mendirikan sebuah Perpustakaan serta mulai mengumpulkan semua manuskrip, bahkan bila perlu membuat salinan manuskrip lain. Untuk menyalin ini digunakan sejumlah besar papyrus yang diimpor dari Mesir. Karena khawatir persediaan papyrus di Mesir akan habis serta rasa iri akan pesaingnya maka raja Mesir menghentikan ekspor papyrus ke Pergamum. Akibatnya, perpustakaan Pergamum harus mencari bahan tulis lain kecuali papyrus. Maka dikembangkanlah bahan tulis baru yang disebut perchamen artinya kulit binatang, terutama biri-biri atau anak lembu. Sebenarnya bahan tulis ini sudah lama dikenal Yunani, namun karena harganya lebih mahal dari papyrus maka papiruslah yang digunakan. Parchmen dikembangkan sehingga akhirnya menggantikan papyrus sebagai bahan tulis hingga penemuan mesin cetak pada abad menengah. Koleksi perpustakaan Pergamum mencapai 100.000 gulungan. Dalam perkembangannya, koleksi perpustakaan Pergamum nantinya diserahkkan ke Perpustakaan Alexandria sehingga Perpustakaan Alxandria menjadi Perpustakaan terbsar pada zamannya.

ROMA

Yunani mempengaruhi kehidupan budaya dan intelektual Roma. Ini terbukti bahwa banyak orang Roma mempelajari sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan Yunani, bahkan juga bertutur bahasa Yunani. Perpustakaan pribadi mulai tumbuh karena perwira tinggi banyak yang membawa rampasan perang termasuk buku. Julius Caesar bahkan memerintahkan agar Perpustakaan terbuka untuk umum. Perpustakaan kemudian tersebar ke seluruh bagian kerajaan Roma. Pada masa ini diganti dengan codec, yang merupakan kumpulan parchmen, diikat serta dijilid menjadi satu sperti buku yang kita kenaldewasa ini. Codex mulai digunakan secara besar-besaran abad ke-4.

Perpustakaan mulai mengalami kemunduran tatkala kerajaan Roma mulai mundur. Akhirnya, yang tinggal hanyalah Perpustakaan biara, yang lain uumnya lenyap akibat serangan orang-orang barbar.

BYZANTIUM

Kaisar Konstantin Agung menjadi raja Kerajaan Roma barat dan Timur pada tahun 324. Ia memilih ibukota di Byzantium, kemudian diubah menjadi Konstantinopel. Ia mendirikan Perpustakaan kerajaan serta menekankan karya Latin karena bahasa Latin merupakan bahasa resmi hingga adad ke-6. Koleksi ini nanti ditambah dengan karya orang Kristen dan non-Kristen, baik dalam bahasa Yunani maupun Latin. Koleksinya tercatat hingga 120.000 buku. Pada waktu itu gereja merupakan pranata kerajaan paling penting. Karena adanya ketentuan bahwa seorang uskup harus memiliki sebuah perpustakaan maka perpustakaan gereja berkembang. Kerajaan Byzantium kaya, berpenduduk padat, secara kultural, intelektual dan politiknya cukup matang yang diperkaya oleh ajaran Yunani dan Timur serta dipengaruhi tradisi Roma dalam pemerintahan. Kerajaan in bertahan hingga abad ke-15. Antara pertengahan abad ke tujuh hingga pertengahan abad ke-9 terjadi kontoversi mengenai ikonoklasme yaitu penggambaran Yesus dan orang kudus lainnya pada benda. Akibat larangan ini banyak biara ditutup, artanya disita. Akibatnya lagi, biarawan Yunani mengungsi ke Italia. Selam periode ini, hiasan manuskrip dengan menggunkan huruf rias, gulungan maupun miniatur tidak disgunakan dalam karya keagamaan maupun Bibel. Setelah kontroversi berakhir, minat terhadap karya Yunani kuno berkembang lagi. Selama 300 tahunkarya Yunani disalin, ditulis kembali, diberi komentar, dibuatkan ringkasan sastra Yunani bahkan juga dikembangkan ensiklopedia dan leksikon mengenai Yunani.

ARAB

Agama Islam muncul pada abad ke-7. Islam kemudian mulai menyebar ke daerah sekitar Arab. Dengan cepat pasukan Isam menguasai Syria, Babylonia, Mesopotamia, Persia, Mesir, seluruh bagian utara Afrika, serta menyeberang ke Spanyol. Orang Arab berhasil dalam bidang Perpustakaan dan berjasa besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan matmatika ke Eropa.

Dalam Abad ke-8 dan ke-9, tatkala Konstantinopel mengalami kemandegan dalam hal karya sekuler maka Bagdad berkembang sebagai pusat kajian karya Yunani. Ilmuwan Muslim mulai memahami pikiran Aristoteles. Ilmuwan Muslim mengkaji dan menerjemahkan karya filsafat, pengetahuan dan kedokteran Yunani ke dalam bahasa Arab; kadang-kadang dari versi bahasa Syriac ataupun Aramaic. Puncak kejayaan terjemahan ni terjadi semas pemerintahan Abbasid Al-Mamun, yang menidrikan rumah kebijakan pada tahun 810, sebuah lembaga studi yang menggabungkan unsure erpustakaan, akademi, dan biro terjemahan. Selam abad ke-8, ilmu alam, matematika, dan kedokteran benar-benar dipelajari, karya Plato, Aristoteles, Hippocrates, dan Galen diterjamahkan ke dalam bahasa Arab, termasuk pula penelitian asli dalam bidang astrologi, alkhemi, dan magis. Dalam penaklukan ke timur, orang Arab berhasil mengetahui cara pembuatan kertas dari orang Cina; pada abad ke-8 di Bagdad telah berdiri pabrik kertas. Teknik pembuatan kertas selama hamper lima adab dikuasai orang Arab. Karena harganya murah, banyak, serta mudah ditulis maka produksi buku melonjak dan Perpustakaan pun berkembang. Tercatat perpustakaan mesjid dan lembaga pedidikan. Perpustakaan kota Shiraz memiliki catalog, disusun menurut tempat serta dikelola oleh staf perpustakaan. Pada abad ke-11, Perpustakaan Kairo memiliki sekitar 150.000 buku.

Di Spanyol, orang Arab mendirikan Perpustakaan Cordoba yang memiliki 400.000 buku. Di Perpustakaan Cordoba, Toledo, dan Seville karya klasik diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa Syriac. Ketika Spanyol direbut tentara Kristen, ribuan karya klasik ini diketemukan, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin kemudian disebar ke seluruh Eropa.

RENAISSANCE

Renaissance mula pada abad ke-14 di Eropa Barat. Secara tidak langsung.Renaissance tumbuh akibat pengungsian ilmuwan Byzantine dari Konstantinope. Mereka lari karena ancaman pasukan Ottoman dari Turki. Sambil mengungsi, ilmuwan ini membawa juga manuskrip penulis kuno. Ilmuwan Italia menyambut kedatangan ilmuwan Byzantine ini serta mendorong pengembangan kajian Yunani dan Latin. Karya ini kemudian tersebar ke Eropa Utara dan Barat, sebagian diantarnya disimpan di Perpustakaan biara maupun universitas yang mulai tumbuh.

Read Full Post »

Oleh Nasrul Makdis

Pada dasarnya kreativitas akan muncul dan berkembang apabila ada yang menunjangnya. Kreativitas merupakan buah pikiran manusia yang dihasilkan melalui sumber-sumber yang dibaca, dilihat, didengar, dirasa, dialami, dan sebagainya. Kreativitas seseorang tidak akan bisa berjalan tanpa didasari sumber-sumber yang sesuai dengan materi yang dibahas. Kreativitas adalah seni. Seni yang melekat pada jiwa seseorang untuk bisa berbuat lebih dari yang lainnya.
Pada akhir-akhir ini bangsa Indonesia sedang mengalami masa, dimana kekereativan seseorang dibuktikan. Dibuktikan di khalayak umum dan khalayak umumlah yang nantinya akan menilai apakah kekereativan yang dimiliki seseorang tersebut sudah sesuai dengan keinginan khalayak atau tidak. Jadi kreativitas seseorang perlu ada yang menunjangnya. Sebut saja misalnya ketika orang akan menyelesaikan tugas akhir kuliahnya seperti laporan, skripsi, thesis, disertasi, dan lain sebagainya tidak akan bisa terselesaikan tanpa adanya penunjang yang mendukung. Walaupun sebenarnya seseorang tersebut memiliki kecerdasan yang baik, tetapi kalau karya yang dihasilkannya tanpa dilandasi dengan sumber yang jelas akan menjadi sia-sia.
Eksistensi perpustakaan merupakan salah satu faktor penentu yang sangat penting dan tidak bisa dianggap remeh. Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang memiliki fungsi yang sangat besar. Adapun fungsi perpustakaan antara lain: mengadakan atau menyediakan informasi, mengelola informasi, menyimpan informasi, dan menyebarluaskan informasi kepada khalayak umum.
Itu merupakan fungsi utama perpustakaan, akan tetapi selain fungsi di atas perpustakaan juga memiliki dua fungsi yang sangat agung yakni pertama pendidikan, perpustakaan merupakan tempat belajar seumur hidup (long live education). Sebagai tempat belajar, perpustakaan sangat berarti bagi mereka yang sudah bekerja atau telah meninggalkan bangku sekolah dan lebih-lebih yang putus sekolah karena tidak sanggup karena biaya yang terlalu mahal untuk memperoleh pendidikan. Perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku, sedangkan buku selalu dikaitkan dengan kegiatan belajar. Oleh karena itu, perpustakaan selalu berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Jika kegiatan belajar meliputi belajar di dalam dan di luar sekolah, maka perpustakaan berkaitan dengan kedua hal tersebut. Di Sekolah terdapat perpustakaan yang berfungsi menunjang proses kegiatan belajar mengajar, sedangkan di luar sekolah masih ada perpustakaan umum yang merupakan sarana pendidikan yang berkesinambungan sepanjang masa. Kedua rekreasi kultural, perpustakaan berfungsi menyimpan khazanah budaya bangsa dari berbagai macam asal dan jumlah. Fungsi kultural dapat dilakukan dengan cara mengadakan berbagai kegiatan misalnya pameran, ceramah, pertunjukan kesenian, dan menyediakan bahan bacaan yang menghibur, tetapi memiliki nilai.
Hal tersebut di atas tidak akan ada gunanya dan peranannya sama sekali tanpa kesadaran kita sebagai anak bangsa ikut membantu berdiri dan berkembangnya perpustakaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran serta pengguna atau masyarakat khalayak sebagai insan yang selalu membutuhkan bahkan bergelut dalam bidang informasi mengabaikan peran serta fungsi dari perpustakaan tersebut. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis pribadi mengajak diri penulis pribadi dan masyarakat khalayak serta seluruh anak bangsa ini untuk turut serta dalam mewujudkan perpustakaan yang mampu melayani seluruh kebutuhan masyarakat sendiri terutama dalam bidang informasi dan lainnya.
Untuk lebih mengenal peran serta fungsi perpustakaan itu sendiri akan lebih baik kalau kita meninjau kembali sejarahnya. Sejarah perpustakaan pada masa kejayaan Islam, yang mana kejayaan tersebut tidak lepas dari peran serta fungsi Perpustakaan itu sendiri.
Agama Islam muncul pada abad ke-7, dan pada saat itu pula Islam menyebar ke sekitar daerah Arab. Islam dengan dilengkapi pasukan yang gagah perkasa dengan cepat bergerak dan menguasai Syria, Babylonia, Mesopotamia, Persia, Mesir, seluruh bagian utara Afrika, dan menyebar hingga Spanyol. Orang arab berhasil dalam bidang perpustakaan dan berjasa besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan ke Eropa.
Pada abad ke-8 dan abad ke-9, ketika konstantinopel mengalami kemandegan dalam hal karya sekuler, baghdad berkembang dan menjadi pusat kajian karya Yunani. Ilmuan Muslim mulai memahami pikiran Aristoteles. Ilmuan Muslim mengkaji dan menerjemahkan karya filsafat, pengetahuan, dan kedokteran Yunani ke dalam bahasa Arab, kadang-kadang dari versi bahasa Syriac ataupun Aramaic. Puncak keemasannya terjadi pada masa pemerintahan Abbasiyah al-Makmun, yang mendirikan “rumah kebiijakan” (Bait al-Hikmah), yaitu sebuah lembaga studi yang menggabungkan unsure Perpustakaan, akademi, dan biro terjemahan pada tahun 810. Selama abad ke-8, ilmu alam, matematika, dan kedokteran benar-benar dipelajari. Karya Plato, Aristoteles, Hippocrates, dan Galen juag diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, termasuk pula penelitian asli dalam bidang Astrologi, alkemi, dan magis. Dalam penaklukan ke timur, orang arab berhasil mengetahui cara pembuatan kertas dari orang Cina; pada abad ke-8 di Baghdad telah berdiri pabrik kertas. Teknik pembuatan kertas selama hampir lima abad dikuasai oleh orang Arab. Karena harganya murah, banyak, dan mudah ditulis, maka produksi buku melonjak dari biasanya dan perpustakaan pun berkembang. Begitupun perpustakaan Masjid dan lembaga pendidikan lainnya. Perpustakaan kota Shiraz memiliki katalog yang disusun menrut tempat dan dikelola oleh staf perpustakaan. Pada abad ke-11, perpustakaan Kairo memiliki sekitar 150.000 buku.
Di Spanyol, orang Arab mendirikan perpustakaan Cordoba yang memiliki 400.000 buku. Di perpustakaan Cordoba, Toledo, dan Seville, karya klasik diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dari bahasa Syriac. Ketika Spanyol direbut tentara Kristen, ribuan karya klasik ini diketemukan, kemuadian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan disebarkan ke seluruh Eropa (Sulistyo-Basuki: 1991).
Penyusunan Al-Qur an dan Al-Hadits merupakan tonggak kebangkitan perpustakaan Islam. Al-Qur an merupakan kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan menggunakan bahasa Arab, yang mana di dalamnya terdapat hujjah bagi umat manusia dan hukum-hukum yang wajib dipatuhi, karena Al-Qur an diturunkan Allah SWT yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Sedangkan Hadits, umat Islam sepakat bahwa apa saja yang datang dari Rasulullah SAW baik ucapan, perbuatan atau taqrir, membentuk suatu hukum atau tuntutan yang disampailkan kepada kita dengan sanad shahih dan mendatangkan yang qath’i atau zhanni.
Ibnu Abbas mengatakan , ketika Rasulullah SAW menerima wahyu, Dia menggerak-gerakkan lidah dan bibirnya supaya tidak lupa wahyu yang diterimanya. Menggerakkan lidah dan bibir ini sebagai tanda bahwa Rasulullah selalu menghapal setiap wahyu yang diterimanya. Dengan cara inilah Rasulullah mengumpulkan semua ayat Al-Qur an yang diterimanya (Quthan: 1993, 139). Dalam suatu ayat dikatakan, “Sesungguhnya atas tanggungjawab Kamilah mengumpulkannya di dadamu dan membuat kamu pandai membacanya.” (Q.S. 75: 17). Jadi, metode pertama yang digunakan untuk mengumpulkan wahyu yang diterimanya adalah melalui menghapal.
Lambat laun mengumpulkan Al-Qur an dengan cara menghapal bergeser ke pengumpulan nash-nash yang tertulis. Awalnya diantara sahabat Nabi menulis Al-Qur an hanya untuk dirinya sendiri. Namun kemudian, Nabi memerintahkan untuk ditulis dengan rapi dan dikumpulkan menjadi sebuah kitab. Mereka menuliskan di atas pelepah daun korma, di batu, pelepah dammar, papan, potongan kulit, kayu yang diletakkan di atas punggung keledai, dan tulang belulang. Zaid bin Tsabit seorang sahabat Nabi yang dipercaya menulis dan mengumpulkan Al-Qur an berkata , “Kami di masa Rasulullah menuliskan Al-Qur an itu di atas kulit atau daun.” Karena pada saat itu untuk mendapatkan alat tulis selain itu sangat sulit didapatkan.
Perkembangan perpustakaan selama kurang lebih 5000 tahun yang lalu, terdapat kondisi yang menguntungkan sekaligus kondisi yang menghambat pertumbuhan perpustakaan itu sendiri. Pertumbuhan perpustakaan tidak lepas dari perkembangan dan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Dalam artian bahwa perpustakaan mencerminkan kebutuhan sosial, ekonomi, kultural, dan pendidikan masyarakat. Kalau kebutuhan tersebut dapat terpenuhi, maka masyarakat akan menuntut pembangunan dan perkembangan perpustakaan. Tetapi, kalau masyarakat belum bisa merasakan hal tersebut, biasanya perpustakaan tidak akan bisa berkembang sesuai dengan harapan. Hal demikian tercermin pada Negara maju dan Negara berkembang. Di Negara maju, kebutuhan ekonomi sudah bisa dipenuhi dan meningkat ke kebutuhan kultural. Kebutuhan kultural ini antara lain bisa dipenuhi dengan jalan menyediakan buku, baik itu di perpustakaan umum maupun di perpustakaan khusus. Sedangkan di Negara berkembang, kondisi sosial masyarakatnya masih bergulat dalam kesulitan ekonomi yang mengakibatkan keterdesakan terhadap kebutuhan pangan, pakaian, obat-obatan, papan, dan sby. Dengan demikian, kebutuhan kultural yang dalam hal ini seperti disebutkan di atas dirasakan sebagai kebutuhan yang kurang mendesak, sehingga menganggap kegiatan membaca merupakan kegiatan yang tidak berguna yang hanya akan membuang waktu saja. Hal tersebutlah yang menjadi tonggak penghambat berkembangnya perpustakaan umum sebagai tempat memperoleh pendidikan sepanjang hayat (long live education) dibandingkan dengan Negara maju.
Dengan demikian, perpustakaan akan tumbuh dan berkembang apabila kondisi sosial masyarakat seperti berikut ini telah terpenuhi: (1) masyarakat telah matang dalam arti telah mencapai kematangan sosial dan kultural, sehingga masyarakat menyadari akan pentingnya penyimpanan informasi, penyebaran informasi, dan wadah ilmu pengetahuan. (2) adanya periode atau masa yang relatif damai dan tenang yang memungkinkan tersedianya waktu yang cukup bagi anggota masyarakat untuk melakukan kegiatan yang bersifat kultural dan intelektual. (3) pada anggota masyarakat terdapat waktu dan sarana yang cukup memadai untuk seni dan memperbaiki pengetahuan yang dimiliki. (4) jika di dalam masyarakat muncul dorongan yang kuat untuk memperbaiki diri sendiri serta kesadaran akan pentingnya informasi. (5) terjadi pertumbuhan minat belajar yang berpusat di sekitar materi grafis dan elektronik serta bisa diraih (akses) oleh mereka yang membuthkan. (6) adanya kestabilan pranata masyarakat dan rasa aman yang menumbuhkan kemantapan berpikir masyarakat. (7) adanya kepemimpinan yang mendorong penggunaan perpustakaan, tunjangan keuangan untuk menunjang perpustakaan serta minat budaya dan intelektual yang tinggi untuk menggunakan dan memfungsikan perpustakaan. (8) adanya kemakmuran ekonomi yang memungkinkan perorangan atau anggota keluarga ataupun institusi menyumbangkan sebagian keuntungannya untuk memajukan dan menyejahterakan perpustakaan. (9) adanya pertumbuhan ekonomi, kekuatan nasional, dan status nansional, yang mendorong penyebarluasan informasi serta pemanfaatan informasi yang berguna.
Eksistensi perpustakaan pada saat ini sangat membantu masyarakat terutama dalam mencari jati diri sebenarnya. Meskipun, perpustakaan yang kita kenal sekarang ini masih jauh dari yang diharapkan. Tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa roda pendidikan bangsa ini dan kreativitas anak bangsa sebagai generasi penerus tidak akan berkembang dan tumbuh sesuai yang diharapkan tanpa keeksistensian dari perpustakaan itu sendiri. Oleh karena itu, akan sia-sia belaka pendidikan bangsa ini kalau pendidikan yang selama ini dibina, baik itu di tingkatan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMU/MA, dan PTN/PTS tanpa dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung yakni perpustakaan.
Sudah saatnya bangsa indonesia sebagai bangsa yang kaya akan sumber daya alam mulai membangun, mendidik anak bangsa ini dengan pola pendidikan yang murah, berkualitas, dan dilengkapi dengan perpustakaan sebagai penunjang kreativitas dan proses belajar mengajar di kelas maupun di luar kelas. Dengan semangat regenerasi muda mari kita wujudkan perpustakaan yang bermutu dan berkualitas sebagai tempat pendidikan sepanjang hayat (long live education).

Read Full Post »

Oleh : Nasrul Makdis

PENDAHULUAN

Kecenderungan menggunakan teks secara elektronik terus meningkat dari hari ke hari. Merujuk pengalaman di berbagai perpustakaan (terutama negara-negara maju) menunjukkan bahwa mayoritas pengguna perpustakaan lebih senang menggunakan “electronic format” dari pada teks secara konvensional,(printed materials) khususnya untuk koleksi jurnal (SWEETLAND, 2002 ). Kecenderungan ini tentunya akan merubah model manajemen yang dikembangkan di perpustakaan yaitu dari sistem konvensional menuju ke sistem yang lebih modern.

Persoalannya adalah bagaimana kita bisa mengembangkan manajemen perpustakaan modern, sementara kondisi objektif perpustakaan di Indonesia rata-rata masih memprihatinkan. Misalnya tentang anggaran yang sangat kecil, kualitas sumber daya manusia yang masih rendah dan sarana dan prasarana yang terbatas.

Kondisi ini tentunya tidak menjadikan kita (pustakawan) menjadi pesimistis , tidak bersemangat dan putus asa. Kita harus berusaha untuk mengoptimalkan, baik itu sumber dana, sumber daya manusia dan fasilitas lain yang tersedia, untuk meningkatkan layanan perpustakaan.

Penulis akan mencoba untuk membahas bagaimana membangun perpustakaan digital dengan melihat kondisi objektif yang ada dilingkungan kita.

PENGERTIAN PERPUSTAKAAN DIGITAL

Di dalam era informasi dimana INTERNET merupakan media yang mudah dimanfaatkan di seluruh pelosok dunia, istilah Digital Library (Perpustakaan Digital), E-Library (Perpustakaan Elektronik), dan Virtual Library (Perpustakaan Maya) mulai sering kita dengar dan menjadi perbendaharaan kosa kata baru dalam bahasa kita. Ketiga istilah tersebut mempunyai konotasi yang sama yaitu merujuk pada perpustakaan yang tidak berujud. Dalam makalah ini penulis akan mengutip salah satu definisi tentang E-Library.

E- Library is a comprehensive digital for information seekers of all ages. Users can do business research, use it for homework, get background materials for term papers, find out about both current and historical events, and more, all in one vast database designed for both depth of content and simplicity of interface.( http://ask.elibrary.com/index.asp)

Kata kunci dari definisi di atas adalah “a comprehensive digital for information seekers” yang mempunyai arti digital secara menyeluruh untuk pencari informasi. Jadi yang di”digitalkan” ,dalam konteks perpustakaan, tidak hanya data bibliografi dan layanannya, tetapi menyangkut semua aspek termasuk isinya (full text).

MANFAAT PERPUSTAKAAN DIGITAL

Seperti sudah disebutkan di atas bahwa pengguna perpustakaan lebih senang menggunakan format secara elektronik daripada secara tradisional. Sebetulnya manfaat perpustakaan digital tidak hanya dirasakan oleh pengguna perpustakaan tetapi juga dapat dirasakan oleh pustakawan atau staf perpustakaan. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya perpustakaan digital adalah sebagai berikut :

Bagi Pengguna Perpustakaan :

  • mengatasi keterbatasan waktu
  • mengatasi keterbatasan tempat
  • memperoleh informasi yang paling baru dengan cepat
  • mempermudah akses informasi dari berbagai sumber
  • mempermudah untuk memindah dan merubah bentuk untuk kepentingan presentasi dsb.

Bagi Pustakawan

  • memperingan pekerjaan
  • meningkatkan layanan
  • tidak memerlukan gedung dan ruang yang besar
  • menumbuhkan rasa bangga

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM MEMBANGUN PERPUSTAKAAN DIGITAL

Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membangun perpustakaan digital. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

1. Analisa kebutuhan (Need Analysis)

Dalam tahap awal pertanyaan yang muncul adalah apakah perpustakaan digital memang diperlukan. Untuk menjawab pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya berdasarkan perkiraan semata tetapi harus diadakan studi untuk menentukan kebutuhan yang disebut dengan analisis kebutuhan (Need Analysis). Apabila analisa kebutuhan sudah dilakukan dan jawabannya adalah positif, maka tahap berikutnya adalah menentukan tujuan. Tujuan ini harus didasarkan pada visi dan misi perpustakaan serta lembaga induknya. Masing-masing perpustakaan mempunyai tujuan yang berbeda satu sama lain tergantung pada kondisi masing-masing perpustakaan.

2. Studi Kelayakan (Feasibility Study)

Apabila penentuan kebutuhan dan tujuan sudah dilakukan, maka tahap berikutnya adalah melakukan studi kelayakan (Soekartawi, 2003), yang penilaiannya meliputi komponen sebagai berikut :

  • Technically feasible (apakah secara teknis layak). .
  • Economically profitable (apakah secara ekonomi menguntungkan).
  • Socially acceptable (secara sosial dapat diterima).

2. 1. Technically feasible (apakah secara teknis layak)

Kelayakan secara teknis ini menjadi faktor penentu dalam membangun perpustakaan digital, karena perpustakaan digital itu memerlukan infrastruktur dan tenaga yang memadai seperti adanya provider untuk internet, hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak), jaringan telepon, listrik serta tidak kalah pentingnya adalah tersedianya tenaga teknis yang dapat mengoperasikannya.

2.2. Economically profitable (apakah secara ekonomi menguntungkan)

Ukuran yang dipakai dalam perhitungan aspek ekonomi tidak harus dihitung dari berapa laba yang akan diperoleh, melainkan sejauh mana pengaruh perpustakaan digital yang akan kita bangun terhadap efektifitas dan efisiensi layanan perpustakaan.

2.3. Socially acceptable (apakah secara sosial dapat diterima)

Apakah secara sosial pembangunan perpustakaan digital tersebut dapat diterima oleh pengguna perpustakaan dan staf perpustakaan ? Pertanyaan ini tentunya harus dijawab, sebelum kita melaksanakan digitalisasi perpustakaan. Sekalipun secara teknis layak dan secara ekonomis menguntungkan, belum ada jaminan bahwa pelaksanaan pembangunan digital perpustakaan passti berhasil tanpa memperhitungkan aspek sosial. Oleh karena itu sebelum program perpustakaan digital dijalankan sebaiknya ada program sosialisasi terlebih dahulu. Analisa aspek social ini juga dapat menyangkut aspek hukum. Kita harus tetap menjunjung tinggi hukum terutama yang menyangkut Undang-Undang Hak Cipta. Misalnya kita tidak diperkenankan dengan bebas me”scan” buku-buku yang dimiliki oleh perpustakaan untuk selanjutnya kita masukkan dalam database tanpa seijin pemilik hak ciptanya.

3. Memilih software

Pemilihan software hanya diperlukan apabila kita ingin membangun database untuk kepentingan perpustakaan digital (sebagai penyedia informasi), namun apabila kita hanya ingin membangun perpustakaan digital sebagai konsumen (memanfaatkan perpustakaan digital yang sudah ada), maka pemilihan software tidak menjadi penting. Kreteria pemilihan software untuk database antara lain meliputi :

3.1. Access Points

Software yang baik adalah software yang memiliki access points yang banyak paling tidak data yang kita miliki itu dapat ditelusur melalui judul, pengarang, dan subjek atau kombinasi dari ketiganya.

3.2.User Friendly

User friendly mempunyai arti bahwa software yang seharusnya dipilih adalah software yang mudah digunakan tanpa memerlukan waktu pelatihan yang lama, begitu komputer dibuka para pengguna dapat berinteraksi dengan mudah dan cepat walupun hanya latihan sebentar.

3.3.Sustainability

Membangun perpustakaan digital berarti membangun untuk jangka panjang. Supaya investasi yang ditanamkan tidak terbuang sia-sia, maka perlu dipertimbangkan dengan hati-hati tentang keberlanjutan software yang kita beli. Sebaiknya membeli software bukan dari perorangan melainkan dari lembaga yang professional.

3.4.Price

Umumnya kita akan menghadapi delima dalam mempertimbangkan harga. Software yang baik biasanya harganya relatif mahal, sementara software yang murah/gratis biasanya kurang dapat memuaskan kebutuhan kita.

4. Pelaksanaan

Dalam tahap ini, khususnya untuk pembentukan database, harus mempunyai prioritas. Prioritas ini tergantung pada masing-masing perpustakaan. Penulis menyarankan untuk memulai pembentukan databse dari produk-produk local, seperti hasil penelitian , hasil pengabdian masyarakat, tesis, diesrtasi, skripsi dan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga di sekeliling kita.

5. Evaluasi

Seperti pada program dan kegiatan perpustakaan lainnya, evaluasi untuk pembangunan perpustakaan digital harus selalu dilakukan secara terus menerus dalam suatu periode tertentu untuk mengetahui apakah tujuan yang telah kita canangkan sudah tercapai dan apakah program tersebut dapat memuaskan pengguna perpustakaan. Tingkat kepuasan pengguna perpustakaan harus selalu kita monitor dan hasil dari monitoring dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan apakah program perpustakaan digital perlu diteruskan, disempurnakan atau dibatalkan.

PENUTUP

Di Indonesia, keberadaan perpustakaan digital belum akan akan mengganti keberadaan perpustakaan konvensional. Keberadaannya sebagai pelengkat dan penambah nilai dari perpustakaan yang sudah ada.

Membangun perpustakaan digital bukan suatu pekerjaan yang mudah. Perencanaan dan studi kelayakan secara teknis, ekonomis, dan social harus dilakukan. Namun demikian apabila kita berhasil membangun perpustakaan digital secara baik, niscaya citra perpustakaan akan semakin meningkat. Citra yang baik harus kita upayakan secara terus menerus, agar supaya perpustakaan dapat meningkatkan kepercayaan dari pihak-pihak yang berkepentingan terutama pihak pimpinan unibersitas/akademi. Kalau tingkat kepercayaan dari pihak yang berkepentingan terhadap perpustakaan sudah tinggi, maka apapun program yang diusulkan kepada pihak universitas/akademi akan mudah disetujui.

REFERENSI

  1. Ackerman, Mark S. Providing Social Interaction in the Digital Library

http://csdl.tamu.edu/DL94/position/ackerman.htm (3/26/03)

Read Full Post »

Apliksi Perpustakaan adalah sistem yang berfungsi untuk pengolahan data perpustakaan dari stok buku-buku yang tersedia, pengunjung sampai yang melakukan peminjaman dan pengembalian buku yang dipinjam. Sistem ini bersifat client-server karena menggunakan database MySQL sehingga untuk mengembangan jaringan akan lebih mudah untuk diimplementasikan.

Dengan menggunakan sistem aplikasi ini kemudahan proses pengelolaan data perpustakaan dan pengontrolannya akan lebih mudah. Setiap data stok buku,pengunjung dan peminjam.

Maksud Dan Tujuan
1. Meningkatkan layanan perpustakaan kepada siswa, guru maupun pegawai sekolah
2. Membantu memonitoring pengelolaan perpustakaan
3. Membantu membuat laporan perpustakaan setiap jangka waktu tertentu
4. Meningkatkan proses pengelolaan perpustakaan.

Manfaat Bagi Sekolah
1. Mendapatkan Laporan yang komprehensif tentang penglolaan perpustakaan
2. Memudahkan pegawai perpustakaan dalam mencari data-data buku, peminjaman,
pengembalian buku maupun dalam pengelolaan perpustakaan yang lainnya.
3. Menyajikan informasi yang dibutuhkan sekolah tentang perpustakaan yang telah
ada secara cepat dan akurat.
4. Terhindar dari kehilangan data buku, data anggota data peminjaman buku.

APLIKASI PERPUSTAKAAN

· Modul Data Anggota, digunakan untuk mengelola data anggota perpustakaan. Dari input, mengubah serta menghapus data anggota
perpustakaan.
· Modul Data Buku dan Inventaris, digunakan untuk mengelola data buku serta data barang inventaris yang dimiliki dan diperoleh perpustakaan
yang meliputi
input, mengubah, menghapus, mencari serta dapat menampilkan katalog buku yang dimiliki perpustakaan.
· Modul Peminjaman dan Pengembalian, digunakan untuk mengelola transaksi dari perpustakaan dari peminjaman serta pengembalian buku.
· Modul Report/Laporan, digunakan untuk menampilkan laporan peminjaman, data buku yang telah dikembalikan serta data barang inventaris
yang menjadibahan pustaka.
· Modul Administration User, digunakan utnuk mengelola data user yang diizinkan untuk mengakses aplikasi ini dari menambahkan user dan
menghapus data user yang hanya dapat dilakukan menggunakan akses admin serta mengubah data user.
· Modul Setting dan Referensi, digunakan untuk pengaturan kebijakan yang dimiliki oleh perpustakaan dari lama peminjaman, denda
keterlambatan pengembalian, referensi letak buku, referensi kelas dan jurusan dari anggota perpustakaan.

Spesifikasi dan Konfigurasi Sistem
Spesifikasi aplikasi Perpustakaan :
· Desktop Application with Java Language (JDK dan JRE)
· Database PostgreSQL
· Operating Sistem : Windows (98/2000/XP/Vista) atau Linux + Xwindows.

Untuk mengoptimalkan sistem yang dipakai, perlu didukung dengan teknologi yang
handal dan perangkat keras yang memadai dengan spesifikasi komputer minimal :
· RAM 256 MB
· Harddisk 40 GB
· Screen Resolusi Monitor 1024 x 768
· Pheriperal utama (CPU, Monitor, Keyboard, Mouse), pendukung (printer)

Read Full Post »

Older Posts »